Cirebon – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, mendorong santri untuk mengambil peran strategis dalam pembangunan nasional melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya di bidang STEM (science, technology, engineering, and mathematics).
Hal tersebut disampaikan saat memberikan motivasi dalam kegiatan Pendampingan Santri Kelas XII SMAIQu Al-Bahjah di Pondok Pesantren Al-Bahjah, Sabtu (18/04).
Dalam kesempatan itu, Menteri Nusron menegaskan bahwa santri memiliki peluang besar tidak hanya sebagai kader ulama, tetapi juga sebagai pelaksana kebijakan negara.
“Kalau ingin berkontribusi bagi bangsa dan negara, selain dikader sebagai ulama, Adik-Adik sekalian bisa jadi hikmatal hukama atau kader pelaksana kebijakan,” ujar Menteri Nusron di hadapan Buya Yahya selaku Pengasuh Lembaga Pengembangan Da’wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah.
Ia menjelaskan, konsep hikmatal hukama mencakup peran strategis dalam pemerintahan, baik sebagai teknokrat maupun birokrat yang terlibat dalam proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan di berbagai sektor. Peran tersebut dinilai krusial dalam menentukan arah pembangunan nasional.
Menurut Menteri Nusron, kekuatan suatu negara juga sangat dipengaruhi oleh penguasaan bidang STEM sebagai fondasi utama pembangunan. Ia mencontohkan ketahanan Iran di tengah tekanan global yang didukung oleh kemandirian di sektor pangan, energi, dan teknologi.
“Kenapa Iran bertahan, karena swasembada pangan, swasembada energi, dan memiliki teknologi yang kuat,” jelasnya.
Oleh karena itu, ia mendorong para santri untuk melanjutkan pendidikan di bidang-bidang strategis seperti teknologi pangan, energi, dan geologi. Penguasaan sektor-sektor tersebut dinilai penting dalam mewujudkan kemandirian bangsa di masa depan.
Dalam pemaparannya, Menteri Nusron juga menyebutkan sedikitnya 10 sektor penting yang membutuhkan peran hikmatal hukama, yakni pertahanan keamanan, hukum, keuangan, pangan, energi, telekomunikasi, kesehatan, logistik, manufaktur, serta pendidikan dan pelatihan.
Menutup arahannya, ia menegaskan bahwa masa depan Indonesia berada di tangan generasi muda, termasuk para santri yang saat ini tengah menempuh pendidikan.
“Jangan ragu, negara ini membutuhkan para santri. Pemuda hari ini adalah pemimpin pada masa yang akan datang. Apalagi saat Indonesia memasuki usia 100 tahun, maju tidaknya salah satunya ditentukan oleh santri yang hari ini lulus SMA,” pungkasnya.
