Perjalanan menuju Kepulauan Sangihe selalu dimulai dari laut. Hamparan biru yang memisahkan Indonesia dan Filipina bukan hanya jalur pelayaran, tetapi juga garis depan kedaulatan negara.
Di wilayah inilah setiap pemimpin kepolisian dituntut memahami bahwa tugas menjaga keamanan bukan sekadar menegakkan hukum, melainkan memastikan denyut kehidupan masyarakat perbatasan tetap berjalan.
Tongkat komando Polres Kepulauan Sangihe kini berada di tangan AKBP Rully Robinson Polii, S.I.K., M.H., M.Tr.Mil., putra Sulawesi Utara yang kembali mengabdi di tanah kelahirannya setelah mengemban sejumlah penugasan strategis di lingkungan Polri. Ia dipercaya memimpin Polres Kepulauan Sangihe melalui mutasi Polri pada Juni 2026, menggantikan AKBP Abdul Kholik.
Bagi sebagian orang, mutasi hanyalah rotasi jabatan. Namun bagi Sangihe, kehadiran seorang Kapolres baru selalu membawa harapan baru.
Ditempa dari Medan Operasi
Karier AKBP Rully Robinson Polii tidak dibangun dalam ruang yang nyaman. Sebelum dipercaya memimpin Polres Kepulauan Sangihe, ia menjabat sebagai Kabagops Satbrimob Polda Sulawesi Tenggara, posisi yang menuntut kemampuan mengelola operasi kepolisian dalam berbagai situasi berisiko tinggi.
Rekam jejaknya juga mencatat pengalaman mengikuti Misi Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (MINUSCA) di Republik Afrika Tengah. Penugasan internasional tersebut menjadi salah satu pengalaman yang membentuk cara pandangnya terhadap profesionalisme, disiplin, dan kerja sama lintas institusi.
Dengan bekal pendidikan Sarjana Ilmu Kepolisian, Magister Hukum, dan Magister Terapan Militer, ia membawa kombinasi pengetahuan operasional, hukum, dan strategi keamanan yang relevan untuk memimpin wilayah perbatasan.
Mengawal Wilayah yang Berbeda
Sangihe bukan wilayah hukum yang biasa. Kabupaten kepulauan ini memiliki puluhan pulau berpenghuni yang tersebar di Laut Sulawesi. Sebagian di antaranya berada sangat dekat dengan Filipina. Mobilitas masyarakat lintas laut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bersamaan dengan tantangan penyelundupan, perikanan ilegal, perdagangan barang terlarang, hingga berbagai persoalan keamanan maritim.
Karena itu, keberhasilan seorang Kapolres di Sangihe tidak hanya diukur dari angka pengungkapan kasus. Lebih jauh, keberhasilan itu terlihat dari kemampuannya membangun kepercayaan masyarakat, memperkuat sinergi bersama TNI, pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga stabilitas wilayah.
Disambut dengan Adat, Diterima dengan Harapan
Saat pertama menginjakkan kaki di Tahuna, AKBP Rully Robinson Polii disambut melalui prosesi adat Sangihe. Tradisi itu bukan sekadar seremoni penyambutan, tetapi simbol penerimaan masyarakat terhadap seorang pemimpin yang akan menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Dalam budaya Sangihe, penghormatan kepada tamu selalu dibarengi harapan. Harapan agar pemimpin yang datang membawa keteduhan, keadilan, dan keberpihakan kepada masyarakat. Harapan yang sama kini melekat pada kepemimpinan AKBP Rully Robinson Polii.
Menjadi Polisi di Daerah Perbatasan
Memimpin kepolisian di daerah perbatasan berarti memahami bahwa keamanan tidak hanya dibangun melalui penegakan hukum, tetapi juga melalui kehadiran negara di tengah masyarakat.
Di pulau-pulau terluar, seorang polisi sering kali menjadi orang pertama yang dimintai pertolongan ketika terjadi bencana, konflik sosial, kecelakaan laut, maupun persoalan kemanusiaan. Karena itu, pendekatan humanis menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tugas kepolisian.
Pengalaman operasional, disiplin Brimob, serta perspektif yang diperoleh dari misi perdamaian internasional menjadi modal penting dalam mengemban amanah tersebut.
Menatap Babak Baru
Kepemimpinan AKBP Rully Robinson Polii dimulai pada saat Kabupaten Kepulauan Sangihe menghadapi tantangan pembangunan yang tidak ringan. Penguatan keamanan wilayah perbatasan, perlindungan masyarakat pesisir, dukungan terhadap pembangunan daerah, hingga peningkatan pelayanan kepolisian menjadi agenda yang berjalan beriringan.
Di ujung utara Nusantara, laut akan terus menjadi saksi. Setiap kapal yang berlayar, setiap warga yang menyeberang antarpulau, dan setiap jengkal wilayah perbatasan akan menjadi bagian dari tanggung jawab yang kini berada di pundaknya.
Bagi AKBP Rully Robinson Polii, amanah sebagai Kapolres Kepulauan Sangihe bukan sekadar jabatan. Ia adalah panggilan untuk menjaga beranda utara Republik Indonesia — tempat di mana negara hadir melalui rasa aman yang dirasakan masyarakat setiap hari.
