Laut di utara Sangihe tidak pernah benar-benar menjadi pemisah. Bagi masyarakat Marore, Kawio, Matutuang hingga pesisir Tahuna, hamparan laut itu sejak ratusan tahun lalu justru menjadi jalan raya. Jalan yang menghubungkan keluarga, perdagangan, budaya, bahkan harapan hidup.
Jauh sebelum Indonesia dan Filipina memiliki paspor, cap imigrasi, atau garis batas yang dipasang di peta, orang-orang Sangihe telah berlayar menuju Balut, Sarangani, hingga Mindanao. Mereka membawa kopra, ikan kering, pala, cengkih, dan hasil laut. Mereka pulang membawa beras, pakaian, perkakas, serta cerita dari negeri seberang.
Di laut itulah bahasa Sangihe bercampur dengan dialek Filipina Selatan. Di laut itu pula lahir ikatan kekeluargaan yang hingga hari ini masih bertahan.
Namun, zaman berubah.
Jalur budaya perlahan berubah menjadi jalur ekonomi. Jalur ekonomi kemudian menarik perhatian para penyelundup. Laut yang dahulu hanya menjadi ruang pertemuan kini juga menjadi ruang perebutan kepentingan.
Perbatasan bukan lagi sekadar cerita tentang kapal kayu dan nelayan. Ia kini menyangkut keamanan negara, perdagangan ilegal, penyelundupan barang berbahaya, hingga pertaruhan kedaulatan Indonesia di beranda utara.
Melalui seri liputan ini, Lintasutara mengajak pembaca menyusuri setiap jejak di jalur lintas batas Indonesia–Filipina melalui Kabupaten Kepulauan Sangihe. Dari kisah persaudaraan yang telah berlangsung berabad-abad, hingga wajah lain perbatasan yang jarang terlihat publik.
Sebab di utara Indonesia, ombak tidak hanya membawa ikan. Kadang ia juga membawa sejarah, harapan, bahkan ancaman.
Bersambung….
