Angin laut bertiup ketika kapal yang membawa rombongan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe membelah perairan utara Sulawesi. Di hadapan mereka terbentang gugusan pulau-pulau kecil yang menjadi batas terdepan Indonesia dengan Filipina.
Di sana, di Pulau Marore, Kawio, dan Matutuang, ratusan warga masih berusaha bangkit setelah gempa bumi berkekuatan 7,7 mengguncang kampung halaman mereka beberapa hari lalu.
Rumah-rumah yang selama puluhan tahun menjadi tempat berteduh kini retak dan rusak. Sebagian warga memilih tidur di tenda darurat, sementara yang lain bertahan di halaman rumah karena khawatir gempa susulan kembali terjadi.
Bagi masyarakat pulau terluar, bencana bukan hanya soal kerusakan bangunan. Jarak yang jauh dari pusat pemerintahan sering kali membuat mereka merasa berada di garis belakang ketika musibah datang.
Namun perasaan itu perlahan sirna saat Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari bersama Wakil Bupati Tendris Bulahari dan Forkopimda tiba di wilayah terdampak.
Tidak ada panggung megah. Tidak ada seremoni panjang. Yang terlihat hanya sapaan hangat dan percakapan sederhana antara pemimpin daerah dengan warga yang sedang menghadapi masa sulit.
Harapan Masyarakat
Di Kampung Kawio, Bupati berjalan menyusuri rumah-rumah yang rusak. Ia mendengar langsung cerita warga tentang hari mencekam ketika bumi berguncang dan suara gemuruh terdengar dari segala arah.
Beberapa anak tampak masih enggan jauh dari orang tua mereka. Rasa takut belum sepenuhnya hilang. Karena itu, selain membawa bantuan logistik, rombongan juga menghadirkan kegiatan trauma healing untuk membantu anak-anak kembali tersenyum.
Di sela kunjungan, bantuan mulai dibagikan. Bukan hanya sembako dan kebutuhan darurat, tetapi juga harapan bahwa mereka tidak sedang menghadapi musibah ini sendirian.
Bagi warga perbatasan, kehadiran pemimpin di tengah situasi seperti ini memiliki arti yang jauh lebih besar dari sekadar kunjungan kerja. Ini adalah pesan bahwa negara hadir hingga ke titik paling utara Indonesia.
Marore, Kawio, dan Matutuang mungkin berada jauh dari pusat pemerintahan. Namun bagi masyarakat di sana, perhatian dan kepedulian yang datang langsung ke kampung mereka menjadi energi baru untuk bertahan dan bangkit.
Di tengah puing-puing rumah yang rusak dan ketidakpastian pascabencana, harapan itu kini kembali tumbuh. Dari pulau-pulau kecil di perbatasan negeri, warga percaya mereka tidak berjalan sendiri.
Karena di saat duka datang, solidaritas juga berlayar menembus laut, membawa pesan sederhana: Kepedulian hadir hingga ke ujung utara negeri.
