Di sebuah pulau kecil di perbatasan utara Indonesia, bangunan PLTS Kawaluso masih berdiri. Namun yang tersisa hari ini bukan lagi cahaya harapan, melainkan pertanyaan besar tentang keberlanjutan pembangunan di daerah terluar.
Beberapa tahun lalu, proyek ini hadir membawa janji. Negara datang dengan teknologi, anggaran miliaran rupiah, dan narasi besar tentang pemerataan energi. Kawaluso menjadi bagian dari program nasional elektrifikasi pulau-pulau terluar yang diharapkan mampu mengubah kehidupan masyarakat.
Namun waktu membuktikan bahwa membangun jauh lebih mudah daripada menjaga keberlanjutan.
Hari ini, panel-panel surya yang seharusnya menangkap cahaya matahari justru tertutup semak belukar. Bangunan pengelolaannya kosong dan tak terurus. Sementara masyarakat kembali hidup tanpa manfaat yang pernah dijanjikan proyek tersebut.
Persoalan ini sesungguhnya bukan sekadar soal rusaknya sebuah pembangkit listrik. Yang lebih serius adalah kemungkinan gagalnya perencanaan jangka panjang. Sebab pembangunan tidak boleh berhenti pada seremoni peresmian, pemotongan pita, atau laporan keberhasilan proyek.
Masyarakat tidak membutuhkan monumen pembangunan. Masyarakat membutuhkan manfaat pembangunan.
Kawaluso bukan sekadar titik di peta Indonesia
Jika benar proyek ini berhenti beroperasi tidak lama setelah dibangun, maka publik berhak mengetahui apa penyebabnya. Apakah karena kesalahan perencanaan? Ketiadaan anggaran pemeliharaan? Lemahnya pengawasan? Atau tidak adanya transfer pengelolaan yang memadai kepada masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting dijawab, bukan untuk mencari kambing hitam, tetapi untuk memastikan kesalahan yang sama tidak terulang di pulau-pulau lain.
Kawaluso bukan sekadar titik di peta Indonesia. Kawaluso adalah beranda terdepan negara. Ketika proyek di wilayah perbatasan terbengkalai, yang dipertaruhkan bukan hanya aset negara, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap janji pembangunan itu sendiri.
Sudah saatnya pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aset-aset negara yang mangkrak di wilayah kepulauan. Sebab setiap rupiah yang dibelanjakan berasal dari uang rakyat, dan setiap proyek yang gagal menyisakan tanggung jawab yang harus dijelaskan kepada publik.
Jangan sampai Indonesia Terang hanya menjadi slogan yang pernah bersinar sesaat, lalu padam tanpa pertanggungjawaban.
Beberapa tahun lalu, proyek ini hadir membawa janji. Negara datang dengan teknologi, anggaran miliaran rupiah, dan narasi besar tentang pemerataan energi. Kawaluso menjadi bagian dari program nasional elektrifikasi pulau-pulau terluar yang diharapkan mampu mengubah kehidupan masyarakat.
