
Lintasutara.com — Walaupun Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KUPD) belum menetapkan hasil Pilpres maupun Pileg, tetapi siasat menuju Pilkada Sangihe mulai jadi fokus.
Semua energi mulai dialihkan menatap Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sangihe 2024- 2029 siasat pun mulai dijalankan para aktor dan aktris yang memiliki hasrat namun terkesan malu- malu mau mencicipi dialektika momentum lima tahun sekali ini.
Berbagai siasat kecap manis mulai ditebar dan ditawarkan dalam menu para ‘bandit’ politik yang baru saja menodai demokrasi dengan saweran agar dilirik serta dipilih yang sesungguhnya tidak lebih dari sebuah pengkhiatan terhadap kedaulatan rakyat, anomalinya rakyat pun mau dibodohi. Mungkin ini ‘kutukan’ Pemilu langsung dengan segala dinamikanya.
Dari berbagai siasat yang mulai dijalankan, tak kalah menarik peran tim hore dengan ilmu cocokloginya berseliweran memanfaatkan ruang Medsos yang tak terbatas sesuai kepentingan masing- masing.
Belum lama ini, kita menyaksikan, nurani dan moral menjadi barang langkah bahkan dianggap sampah jika bersanding dengan politik praktis penuh pragmatisme, situasi ini akan terus menjadi pemandangan biasa, mana kala perilaku dagang sapi masih terus dipraktekan para politisi demi merengkuh jalan kekuasan melalui setapak politik kotor.
Tentu, dampaknya kualitas dari refresentasi rakyat biasa disebut wakil rakyat jauh panggang dari api. Pertanyaanya siapa yang salah dari situasi ini? jawabanya; kita semua.
Dibalik itu kita juga tidak boleh ‘pukul am’, percaya masih ada politisi memiliki kualitas, memahami fungsinya sebagai wakil rakyat tapi saat masa perhelatan terpaksa menempuh jalan yang sama akibat sistem politik seakan mengharuskan mereka bertindak. Kalau tidak, tidak akan menang.
Menatap Pilkada Sangihe 2024, bukan hanya ajang menang- menangan. Siapa dan partai apa terkuat, mengusung sendiri calon atau berkoalisi. Silakan dengan strategi dan siasat bagian dari proses menuju kemenganan, tapi lebih dari itu, perlu diingat ada nasib 140. 165 jiwa penduduk kabupaten ini akan menerima dampak sosial dan ekonomi.
Secara empiris, menjadi Bupati dan Wakil Bupati hak putra- putri terbaik daerah yang dikaruniani alam yang indah kultur unik ini. Bagi putra- putri Tampung Lawo memiliki iktiar menjadi pemimpin daerah 105 pulau ini rakyat menggugat nurani anda agar memiliki komitmen mensejahterahkan kami.
(Redaksi)
