Di ujung pesisir Kampung Kawaluso, Kecamatan Kendahe, berdiri sebuah pelabuhan yang seharusnya menjadi pintu kemajuan masyarakat pulau.
Bangunan dermaga tampak kokoh menghadap laut. Struktur beton menjulur ke perairan. Dari kejauhan, siapa pun akan mengira pelabuhan itu menjadi pusat aktivitas transportasi laut masyarakat.
Namun kenyataannya berbeda.
Pelabuhan Penyeberangan Kawaluso nyaris tak pernah berfungsi sebagaimana tujuan pembangunannya.
Lebih ironis lagi, hingga kini tidak tersedia akses jalan yang memadai menuju area pelabuhan.
Sebuah pelabuhan telah dibangun, tetapi jalan menuju pelabuhan tidak pernah benar-benar disiapkan.
Akibatnya, masyarakat sulit menjangkau lokasi. Kendaraan tidak dapat keluar masuk secara normal. Aktivitas bongkar muat tidak pernah tumbuh. Kapal feri yang menjadi tujuan utama pembangunan pelabuhan pun tak pernah beroperasi secara rutin.
Di tengah investasi negara yang mencapai puluhan miliar rupiah, warga justru bertanya-tanya tentang manfaat yang mereka terima.
“Buat apa pelabuhan kalau tidak ada kapal dan tidak ada jalan masuk?” demikian pertanyaan yang kerap muncul di tengah masyarakat.
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi menyentuh inti persoalan. Sebab hakikat sebuah pelabuhan bukanlah bangunan beton yang berdiri megah di tepi laut. Pelabuhan baru memiliki arti ketika mampu menghubungkan manusia, barang, dan aktivitas ekonomi.
Di Kawaluso, fungsi itu belum pernah benar-benar hadir.
Alih-alih menjadi penggerak ekonomi pesisir, pelabuhan tersebut justru terlihat seperti proyek yang berhenti di tengah jalan. Infrastruktur utama dibangun, tetapi ekosistem pendukungnya tidak tersedia.
Tidak ada arus penumpang, tidak ada kendaraan yang menyeberang, tidak ada aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitar pelabuhan. Yang tersisa hanyalah bangunan yang perlahan menua diterpa angin dan garam laut.
Lalu muncul pertanyaan yang lebih besar:
Apakah sejak awal proyek ini dibangun berdasarkan kebutuhan riil masyarakat?
Ataukah pelabuhan ini hanya berhasil dibangun secara fisik, tetapi gagal direncanakan sebagai sistem transportasi yang utuh? Di Kawaluso, pertanyaan itu masih menunggu jawaban.
Sementara waktu terus berjalan, dan pelabuhan yang dibangun dengan uang rakyat tetap berdiri sunyi di bibir pantai.
Bersambung……..
