Meski Belum Berlari, Sangihe Terus Melangkah di Tangan TUARI

"Kebutuhan Dasar Rakyat Menjadi Kompas Pembangunan"

Terbit:

Sangihe belum berlari. Tetapi menyebut daerah ini berhenti juga tidak sepenuhnya tepat.

Di bawah kepemimpinan Bupati Michael Thungari dan Wakil Bupati Tendris Bulahari, roda pemerintahan tetap bergerak. Hampir dua tahun perjalanan TUARI memang belum menghadirkan seluruh perubahan yang diharapkan masyarakat. Namun, di tengah tekanan fiskal nasional, masih ada langkah yang patut dicatat.

Persoalannya, bukan semata seberapa cepat Sangihe bergerak, tetapi ke mana arah langkah itu dibawa.

Sebagai daerah kepulauan dan perbatasan dengan kemampuan fiskal terbatas, Sangihe sangat bergantung pada transfer pemerintah pusat. Ketika kebijakan anggaran nasional berubah dan ruang fiskal menyempit, pemerintah daerah harus membuat pilihan yang tidak mudah.

Baca Juga:

Sementara kebutuhan masyarakat tidak pernah ikut berkurang.

Jalan, pendidikan, kesehatan, air bersih, listrik, transportasi antarpulau, konektivitas hingga pelayanan publik tetap membutuhkan perhatian. Dalam kondisi seperti ini, kebutuhan dasar harus menjadi kompas pembangunan.

Sangihe tidak memiliki kemewahan untuk salah membelanjakan uang.

Karena itu, pernyataan Bupati Michael Thungari dalam nota pengantar keuangan APBD Perubahan Tahun Anggaran 2026 patut digarisbawahi: Rp1 sekalipun yang dibelanjakan melalui APBD harus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kalimat itu harus berhenti sebagai pesan normatif. Melainkan bentuk keberpihakan seorang pemimpin.

Setiap rupiah APBD adalah uang rakyat. Maka ukurannya bukan sekadar berapa besar anggaran terserap atau berapa banyak kegiatan dilaksanakan, melainkan seberapa nyata manfaatnya dirasakan masyarakat.

Tidak mengejar pembangunan yang terlihat megah jika persoalan dasar masih terbengkalai.

Masyarakat membutuhkan jalan yang bisa dilalui, pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau, pendidikan yang berjalan, transportasi yang terjamin dan pelayanan pemerintah yang hadir. Di sanalah keberhasilan pembangunan seharusnya diukur. Itu juga yang sedang dikerjakan TUARI.

Janji Politik Tetap Harus Ditagih

Apresiasi terhadap langkah pemerintah tidak berarti menutup mata terhadap pekerjaan rumah.

Hampir dua tahun adalah waktu yang cukup untuk melihat mana janji politik yang mulai diwujudkan dan mana yang masih tertunda. Persoalan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) salah satunya.

Janji itu belum sepenuhnya tuntas. Namun mulai direalisasikannya pembayaran secara bertahap menunjukkan adanya upaya memenuhi komitmen tersebut.

Pelan bukan berarti gagal. Tetapi pelan juga bukan alasan untuk berhenti.

Pemerintah tetap menjelaskan kendala, perkembangan dan target penyelesaiannya. Sebab janji politik tidak berakhir ketika pemilihan selesai. Ia berubah menjadi tanggung jawab pemerintahan.

Kritik dan Apresiasi Harus Berjalan Bersama

TUARI tidak perlu takut terhadap kritik.

Kritik bukan berarti membenci pemerintah. Begitu pula apresiasi bukan berarti membenarkan semua kebijakan.

Yang dibutuhkan Sangihe adalah penilaian yang jujur: yang baik diapresiasi, yang kurang dikritik, yang tertunda ditagih, dan yang keliru diperbaiki.

Di sinilah media harus mengambil posisi.

Bukan menjadi corong pemerintah, tetapi juga bukan sekadar menjadi oposisi. Media adalah bagian dari kontrol publik.

Lintasutara memilih posisi tersebut.

Bukan Sekadar Berlari, Tetapi Sampai kepada Rakyat

Sangihe memang harus bergerak lebih cepat. Tetapi kecepatan tanpa arah hanya akan menghasilkan pemborosan.

Dalam situasi fiskal yang sempit, prioritasnya jelas: kebutuhan dasar masyarakat, efisiensi anggaran, pelayanan publik dan penyelesaian janji politik.

Sebab pemerintah pada akhirnya tidak dinilai dari tebalnya dokumen APBD atau banyaknya kegiatan yang tercatat dalam laporan.

Pemerintah dinilai dari apa yang berubah dalam kehidupan rakyat.

Maka, hampir dua tahun pemerintahan TUARI menjadi momentum untuk terus memperbaiki diri. Yang sudah berjalan dilanjutkan, yang tertunda dikejar, yang keliru dikoreksi.

Sangihe mungkin belum berlari. Tetapi selama langkahnya tetap menuju rakyat, perlahan pun tetap berarti.

Dan ketika uang daerah semakin terbatas, kompasnya harus tetap sama: kebutuhan dasar masyarakat adalah prioritas.

Bagikan:
Artikel sebelumnya

Artikel terkait

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Advertisement

Terpopuler

Breaking News: Thungari Kembali Lantik Pejabat, Sangihe Ketambahan Satu Badan

Sangihe

Bupati Sangihe Lantik 62 Pejabat, Ingatkan Sistem Kerja Melayani Bukan Dilayani

Sangihe

104 Guru Sangihe Ikuti Pelatihan BCKS, Disiapkan Jadi Pemimpin Sekolah

Sangihe

Sangihe Kirim Tiga Siswa SD ke OGN 2026 di Ternate

Sangihe

Final FIFA ASEAN Cup 2026: Indonesia-Thailand Sama Kuat Di Babak Pertama

Olahraga

Terkini