Rabu, 21 Oktober 2026, menjadi catatan penting demokrasi di tanah Tampungang Lawo. Sebanyak 117 kampung di Kabupaten Kepulauan Sangihe menggelar Pilkades serentak, dengan 304 calon yang bertarung memperebutkan kepercayaan rakyat.
Di balik persaingan itu, ada satu hal yang jauh lebih berharga daripada kemenangan: persaudaraan. Kedewasaan demokrasi masyarakat Sangihe tidak hanya diukur dari keberanian menentukan pilihan, tetapi juga dari kemampuan menjaga kekeluargaan setelah kontestasi berakhir.
Terima kasih, Sangihe. Terima kasih kepada masyarakat yang telah menggunakan hak pilih, para calon yang berkompetisi, serta seluruh pihak yang menjaga proses demokrasi tetap tertib dan kondusif.
Kepada yang menang, selamat mengemban amanah. Kepada yang belum terpilih, pengabdian tidak harus berakhir bersama kekalahan.
Kini, hentikan sejenak euforia kemenangan. Sebab, pekerjaan sesungguhnya baru dimulai. Janji kampanye harus berubah menjadi kerja nyata, sementara keterbatasan anggaran menuntut Kapitalaung untuk cermat menentukan prioritas dan berani memperjuangkan kebutuhan rakyat.
Jangan ada warga yang dianaktirikan karena berbeda pilihan. Setelah pemilihan, tidak ada lagi kubu pendukung. Yang ada adalah satu kampung, satu masyarakat, dan tanggung jawab bersama untuk membangun masa depan.
Ingat, rakyat mungkin hanya membutuhkan beberapa menit untuk menentukan pilihan, tetapi mereka akan merasakan dampak kepemimpinan selama delapan tahun kedepan.
Kemenangan bukan tentang siapa yang berhasil mengalahkan lawan, melainkan siapa yang mampu menjawab kepercayaan rakyat.
Hari ini, demokrasi telah melahirkan pemimpin. Besok, rakyat menunggu bukti. Jangan biarkan harapan berhenti sebagai janji, jangan biarkan kemenangan hanya menjadi perayaan.
Terima kasih, Sangihe. Mari rawat persaudaraan, jaga demokrasi, dan buktikan bahwa perbedaan pilihan tidak pernah lebih besar daripada cinta terhadap kampung sendiri.
