Dukung karya jurnalisme perbatasan Lintasutara.com
Lihat
LU TV

PDIP Sangihe di Persimpangan Jalan Kekuasaan

Terbit:

Konferensi Cabang PDI Perjuangan Kabupaten Kepulauan Sangihe telah selesai. Nama Denny Roy Tampi resmi ditetapkan sebagai Ketua DPC PDIP Sangihe periode 2025–2030. Sebuah keputusan struktural, tapi juga pesan politik.

Bagi PDIP Sangihe, ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan.
Ini adalah titik evaluasi — bahkan bisa disebut titik krusial — setelah dua kali Pilkada berturut-turut PDIP gagal merebut kursi bupati.

Pertanyaannya sederhana, namun jawabannya tidak:
akankah PDIP Sangihe bangkit dan berjaya, atau justru mengulang siklus kekalahan yang sama?

PDIP bukan partai kecil di Sangihe. Basis ideologinya kuat, kadernya ada, kursi DPRD pun masih terjaga. Namun sejarah dua Pilkada terakhir menunjukkan satu fakta pahit: kekuatan struktural belum otomatis berubah menjadi kemenangan elektoral.

Baca Juga:

Di sinilah tantangan Denny Roy Tampi. Ia tidak hanya memimpin partai, tetapi memikul beban sejarah kekalahan.

Ia tidak cukup hanya merapikan barisan, tetapi harus mengubah cara PDIP membaca masyarakat Sangihe.

Tantangan PDIP Sangihe

Selama ini, PDIP sering kuat di dalam, tapi rapuh ke luar. Solid di struktur, tapi kalah dalam persepsi publik. Mesin partai berjalan, namun narasi politiknya kerap tidak sampai ke hati pemilih.

Masyarakat Sangihe hari ini tidak hanya memilih partai. Mereka memilih figur, kedekatan emosional, dan keberpihakan nyata. Jika PDIP masih mengandalkan romantisme ideologi tanpa pembaruan pendekatan, kekalahan hanya akan berganti tanggal.

Momentum Konfercab seharusnya menjadi titik balik. Bukan sekadar pembagian jabatan, tapi ruang otokritik. Mengapa suara legislatif tidak berbanding lurus dengan suara Pilkada? Mengapa kader internal belum mampu menembus batas psikologis pemilih luas?

Ke depan, PDIP Sangihe dituntut lebih berani. Berani membuka ruang regenerasi. Berani membangun koalisi rasional, bukan emosional.
Dan yang paling penting, berani turun ke bawah — bukan hanya saat kampanye, tapi dalam denyut kehidupan masyarakat sehari-hari.

Denny Roy Tampi punya waktu lima tahun. Waktu yang cukup untuk membuktikan bahwa PDIP Sangihe bukan sekadar besar dalam struktur,
tetapi juga menang dalam kepercayaan rakyat.

Jika gagal membaca momentum ini, maka Konfercab hari ini hanya akan menjadi catatan rutin organisasi. Namun jika berhasil,
PDIP Sangihe bisa kembali menulis sejarah — bukan sebagai partai yang selalu kalah di Pilkada, melainkan sebagai kekuatan politik yang benar-benar mengakar dan menang.

Bagikan:

Artikel terkait

Advertisement

Terpopuler

Mahasiswi Polnustar Jadi Korban Banjir Bandang Siau, Kampus Berduka dan Kehilangan

Sitaro

Duo Dalughu Taklukan Jalur Speed WR, Sabet Emas ke- 2 untuk...

Olahraga

LENTERA di Ujung Utara: Ketika Kejaksaan Hadir dengan Empati

Sangihe

Dini Hari Maut di Siau Timur: Begini Jumlah Korban Sementara

Sitaro

Gubernur Sulut Tinjau Lokasi Banjir Bandang Sitaro

Sitaro

Terkini