Dinamika politik di tubuh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kabupaten Kepulauan Sangihe tampaknya belum benar-benar reda pasca Pilkada 2024.
Setelah terjadi pergantian pucuk kepemimpinan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dari Ferdy Sondakh kepada Denny Roy Tampi, kini estafet politik kembali bergeser lewat pergantian kursi Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Dua momentum ini tidak bisa dipandang sebagai peristiwa yang berdiri sendiri.
Publik mulai membaca adanya perubahan arah kekuatan politik di internal PDIP Sangihe. Pergantian Ketua DPC lebih dulu menjadi sinyal awal bahwa partai banteng sedang melakukan reposisi besar-besaran pasca kekalahan politik pada Pilkada lalu. Ketika kemudian kursi Ketua DPRD juga berpindah dari Ferdy Sondakh kepada Denny Roy Tampi, spekulasi tentang konsolidasi kekuatan baru semakin menguat.
Pertanyaannya kemudian:
apakah ini langkah strategis menuju kebangkitan PDIP? Atau justru awal dari konflik internal yang lebih dalam?
Ferdy Sondakh bukan kader biasa di tubuh PDIP Sangihe. Ia masih memiliki basis loyalitas yang kuat di kalangan kader lama maupun struktur partai. Bagi sebagian kader, Ferdy merupakan figur yang memahami kultur organisasi dan menjadi representasi kekuatan ideologis PDIP di daerah.
Karena itu, ketika posisi Ketua DPC dan Ketua DPRD sama-sama berpindah tangan, muncul kesan bahwa sedang terjadi perubahan besar dalam peta pengaruh internal partai.
Di sisi lain, hadirnya Denny Roy Tampi membawa pesan regenerasi. PDIP tampaknya mulai mencoba menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku politik masyarakat Sangihe yang kini lebih melihat figur, komunikasi publik, dan kedekatan sosial dibanding sekadar kekuatan partai.
Denny muncul sebagai simbol wajah baru.
Namun perubahan wajah saja tidak cukup jika tidak diiringi konsolidasi internal yang kuat. Sebab tantangan terbesar PDIP saat ini bukan hanya menghadapi lawan politik di luar, tetapi menjaga soliditas di dalam tubuh partai sendiri.
Jika pergantian ini memunculkan polarisasi baru antara kelompok lama dan kelompok baru, maka PDIP berpotensi semakin melemah menjelang pertarungan politik mendatang
Apalagi kekalahan pada Pilkada 2024 masih menjadi luka politik yang belum sepenuhnya pulih. Kekalahan itu menunjukkan bahwa dominasi PDIP di Sangihe tidak lagi absolut. Mesin partai yang selama ini dianggap kuat mulai mengalami penurunan pengaruh di tengah menguatnya politik figur.
Karena itu, posisi Denny Roy Tampi saat ini sangat strategis sekaligus penuh tekanan. Ia bukan hanya memimpin partai dan DPRD, tetapi juga sedang memikul harapan untuk mengembalikan kejayaan PDIP di Sangihe.
Pertanyaannya:
mampukah ia merangkul semua kekuatan internal?
Jika iya, maka pergantian ini bisa menjadi titik awal kebangkitan PDIP.
Namun jika yang terjadi justru perebutan pengaruh, konflik elite, dan saling menjatuhkan menuju penentuan figur Pilkada, maka bukan tidak mungkin PDIP akan kembali tersungkur dalam pertarungan politik daerah mendatang.
Saat ini PDIP Sangihe benar-benar berada di persimpangan jalan.
Bangkit bersama Denny Roy Tampi, atau perlahan runtuh karena konflik internal.
Dan publik sedang menunggu jawabannya.
