Kuburan Sunyi Anak Negeri

Kabar duka kembali datang dari tambang emas tanpa izin (PETI) di Bowone, Kecamatan Tabukan Selatan Tengah, menelan korban jiwa. Dua penambang ditemukan tewas setelah tertimbun longsoran tanah, Jumat (22/8/2025).

Tim gabungan Basarnas Manado Pos SAR Tahuna bersama unsur terkait bekerja hampir 10 jam untuk mengevakuasi jenazah para korban. Peristiwa tragis ini menambah daftar jatuhnya korban di lokasi PETI Bowone.

Sejak beberapa tahun terakhir, aktivitas tambang ilegal ini telah menelan korban nyawa, namun tetap menjadi primadona bagi sebagian masyarakat.

Alasannya sederhana: tambang ini dianggap mampu memberi penghasilan cepat dan melimpah, meski nyawa menjadi taruhannya. Kondisi ini memperlihatkan dilema besar.

Di satu sisi, masyarakat terdesak kebutuhan ekonomi dan melihat PETI sebagai jalan pintas. Di sisi lain, nyawa manusia seakan terabaikan oleh resiko besar yang mengintai setiap penambang.

Tragedi terbaru ini seharusnya menjadi alarm keras. Dibutuhkan langkah konkrit semua pihak—pemerintah daerah, aparat keamanan, dan pemangku kepentingan—untuk menghentikan lingkaran kematian di tambang ilegal.

Penegakan hukum, solusi lapangan kerja, hingga program pemberdayaan ekonomi masyarakat harus segera diwujudkan, agar PETI tak lagi menjadi kuburan sunyi bagi anak-anak negeri.

Penulis: Ronny Serang

Share:

Artikel Terkait

Advertisement

More...

Terpopuler

Meski Belum Berlari, Sangihe Terus Melangkah di Tangan TUARI

112
Views

PDIP Sangihe di Persimpangan Jalan Kekuasaan

875
Views

Salah Pilih Sekda, Sangihe Bisa Mundur Diam-Diam

437
Views

TERIMA KASIH

41
Views

Politik Ala Tendris Bulahari: Mungkin Tidak Pintar, Tapi Saya Punya Hati

241
Views
Lihat Semua