Sangihe, Lintasutara.com – Di balik khidmatnya upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Senin, 17 Agustus 2026, ada sosok pelajar perempuan yang mendapat kepercayaan menjalankan tugas penuh kehormatan.
Dia adalah Glorya Eriva Stefany Lomban, siswi SMA Lentera Harapan Sangihe, yang dipercaya menjadi pembawa baki dalam pasukan pengibar bendera.
Lahir di Tahuna, 20 September 2010, Glorya tampil penuh percaya diri ketika melangkah membawa baki untuk menerima Sang Merah Putih dalam rangkaian upacara kenegaraan tersebut.
Di hadapan peserta upacara dan masyarakat yang menyaksikan, setiap langkahnya menjadi bagian dari momen sakral peringatan kemerdekaan di Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Tugas itu bukan sekadar berjalan membawa baki. Di dalamnya terdapat kepercayaan, tanggung jawab, kedisiplinan dan kebanggaan sebagai generasi muda yang mendapat kesempatan mengambil bagian dalam peringatan kemerdekaan bangsa.
Usai melaksanakan tugasnya, Glorya tak mampu menyembunyikan kegembiraannya.
Putri pasangan Eric Oliver Lomban dan Varen Gryvi Humamping itu mengaku perasaannya bercampur aduk setelah berhasil menuntaskan tugas yang dipercayakan kepadanya.
“Perasaannya bercampur aduk. Bahagia dan gembira,” ujar Glorya usai menjalankan tugasnya.
Bagi Glorya, menjadi pembawa baki bukan semata-mata tentang sebuah pencapaian pribadi. Lebih dari itu, pengalaman tersebut menjadi penyemangat untuk terus melangkah dan memberikan motivasi bagi pelajar maupun anak-anak muda di Sangihe.
Menurutnya, kesempatan tersebut menjadi bukti bahwa generasi muda di daerah perbatasan juga mampu tampil, berprestasi dan mengambil bagian dalam momentum penting bangsa.
“Ini bukan hanya soal pencapaian, tetapi juga menjadi penyemangat, baik untuk diri saya sendiri maupun pelajar dan anak muda di Sangihe,” ungkapnya.
Kepercayaan yang diberikan kepada Glorya menjadi sebuah cerita tersendiri dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Sangihe.
Dari sebuah baki yang dibawa dengan penuh kehati-hatian, tersimpan pesan sederhana: kemerdekaan tidak hanya dirayakan, tetapi juga diteruskan melalui generasi muda yang berani bermimpi, disiplin dan siap mengambil tanggung jawab.
Glorya mungkin baru memulai langkahnya sebagai seorang pelajar. Namun, pada 17 Agustus 2026, langkah kecil itu menjadi bagian dari sejarah perjalanan dirinya—sekaligus menjadi inspirasi bagi anak-anak muda Sangihe untuk terus berprestasi dan mengukir nama daerah di panggung yang lebih luas.
Dari Tahuna, sebuah pesan untuk generasi muda perbatasan: jangan pernah merasa kecil karena berada jauh dari pusat. Sebab, kesempatan untuk mengabdi dan berprestasi selalu terbuka bagi mereka yang mau berusaha.
