Pustu di Pulau Kawaluso Tanpa Listrik, Obat Kerap Kosong, Perawat Belum Digaji Hampir 6 Bulan

Terbit:

Sangihe, Lintasutara.com — Di Pulau Kawaluso, salah satu pulau terluar Indonesia yang berada di wilayah perbatasan Indonesia-Filipina, pelayanan kesehatan masyarakat masih menghadapi berbagai keterbatasan.

Ironisnya, Puskesmas Pembantu (Pustu) Kawaluso, yang menjadi satu-satunya fasilitas kesehatan pemerintah di kampung tersebut, hingga kini belum memiliki aliran listrik sejak peresmian pada tahun 2025.

Kondisi tersebut diungkapkan Vebe, salah satu dari dua tenaga perawat yang bertugas di Pustu Kawaluso. Menurutnya, sejak peresmian hingga saat ini, bangunan pelayanan kesehatan tersebut belum memiliki meteran listrik maupun sambungan listrik permanen.

“Sejak diresmikan tahun 2025 sampai sekarang belum ada aliran listrik di pustu,” ujar Vebe.

Baca Juga:

Ketiadaan listrik menjadi kendala serius dalam pelayanan kesehatan. Selain membatasi aktivitas pelayanan pada malam hari, sejumlah peralatan kesehatan yang membutuhkan sumber daya listrik juga tidak dapat termanfaatkan secara optimal.

Tidak hanya persoalan listrik, Pustu Kawaluso juga kerap mengalami kekosongan obat-obatan. Menurut Vebe, kondisi tersebut terjadi karena seluruh biaya operasional pustu masih bergantung pada Dana Desa.

Akibatnya, setiap kali pencairan dana desa mengalami keterlambatan, pengadaan obat-obatan turut terhambat sehingga stok obat sering kali tidak tersedia.

“Ketersediaan obat bergantung pada dana desa. Kalau pencairannya terlambat, pembelian obat juga ikut tertunda,” katanya.

Kesejahteraan Nakes di Pulau Terluar

Situasi tersebut turut berdampak pada kesejahteraan tenaga kesehatan yang bertugas di pulau terluar tersebut. Vebe mengungkapkan bahwa dirinya bersama seorang perawat lainnya belum menerima gaji atau hak mereka selama hampir enam bulan terakhir.

“Hampir enam bulan ini kami belum menerima hak kami,” ungkapnya.

Meski demikian, kedua tenaga kesehatan itu tetap menjalankan tugas melayani masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan dasar di Pulau Kawaluso.

Kondisi yang terjadi di Pustu Kawaluso memperlihatkan masih besarnya tantangan pemerataan pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan dan perbatasan. Kehadiran bangunan fasilitas kesehatan belum sepenuhnya bersamaan dengan dukungan sarana dan pembiayaan yang memadai.

Padahal, bagi masyarakat Pulau Kawaluso yang terpisah oleh lautan dan memiliki akses terbatas menuju pusat pelayanan kesehatan yang lebih lengkap, keberadaan pustu menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan pemerintah.

Ketiadaan listrik, keterbatasan obat-obatan, hingga tertundanya pembayaran hak tenaga kesehatan menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah maupun instansi terkait. Sebab, di pulau-pulau terluar seperti Kawaluso, pelayanan kesehatan bukan sekadar urusan fasilitas, melainkan menyangkut hak dasar warga negara yang hidup di beranda terdepan Republik Indonesia.

Bagikan:

Artikel terkait

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Advertisement

Terpopuler

Gempa Susulan Sangihe Capai 314 Kali, BMKG Catat Tren Penurunan

Sangihe

Gempa M 7,7 Hantam Simueng, 140 Warga Mengungsi dan Puluhan Rumah...

Berita

BMKG Catat 269 Gempa Susulan dalam Tiga Hari

Sangihe

4 Tokoh Muda Asal Sulut Masuk Jajaran DPP PIKI

Nasional

Ini Daftar Warga Kawio yang Rumahnya Rusak

Sangihe

Terkini