Sangihe, Lintasutara.com – Hari Minggu, umumnya menjadi momentum spesial bagi umat Kristiani; menjadi waktu mengaktualisasikan iman lewat persekutuan ibadah di gedung Gereja.
Segmen puji-pujian bersama, pun juga perenungan Alkitab, selalu punya ruang tersendiri yang membawa ketenangan setelah menjalani satu pekan pekerjaan.
Namun pemandangan berbeda terlihat lewat dokumentasi ibadah minggu (14/6/2026) jemaat GMIST Smirna Kawio hari ini. Di salah satu pulau teras utara NKRI ini, warga harus mengikuti peribadatan di tenda pengungsian, imbas kerusakan berupa retakan pada beberapa bagian dinding gedung Gereja.

Nampak, ibadah Minggu pagi ini berlangsung lebih khidmat, dipimpin Pdt. Lidia Tamakasighu, Ketua MPJ GMIST Smirna Kawio, dengan kehadiran ratusan warga jemaat.
“Memang suasananya agak sedih dalam ibadah tadi,” jelas Kapitalaung Kawio, Batin Mamintade via Whatsapp. Pasalnya, tak bisa disangkal gempa berkekuatan Magnitudo 7,7 pada Senin (8/6/2026) lalu memberi dampak secara psikologis.

“Apalagi kita tau bersama ada kerusakan rumah warga. Jadi rasa sedih pasti terasa hingga ibadah tadi,” lanjutnya.
Pun demikian, ia mengaku bersyukur ada semangat warga jemaat untuk bersama-sama dalam ibadah. Bahkan melebihi kapasitas tenda utama, meski beberapa jam sebelum ibadah mulai masih sempat terasa adanya gempa bumi susulan.
“Ada hampir 200-an jemaat yang beribadah tadi. Selain di tenda, ada juga di posko pengungsian karena memang di tenda sudah tidak muat. Kami bersyukur meski kurang lebih pukul 07.00 WITA sempat terasa adanya gempa, tapi ibadah boleh berjalan dengan baik,” pungkas Mamintade.
