Dinilai Minim Empati, Oknum Kreator Sulut ‘Dirujak’ Netizen

Terbit:

Musibah kebakaran yang melanda pusat perbelanjaan Megamall Manado bukan sekadar peristiwa kebakaran biasa. Asap tebal yang menyelimuti gedung, kepanikan pengunjung, hingga kabar meninggalnya seorang korban perempuan dalam proses evakuasi, meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Sulawesi Utara.

Di tengah suasana duka itu, ruang media sosial justru memunculkan polemik baru. Salah satu konten kreator Sulut, Diego Alexander Garing, menjadi sasaran kritik dan “dirujak” netizen setelah video dan ungkapannya dinilai kurang menunjukkan empati terhadap tragedi yang terjadi.

Gelombang kritik muncul cepat. Banyak warganet menilai gaya penyampaian yang dianggap santai dan bernuansa hiburan tidak tepat disampaikan saat publik masih berduka. Bahkan setelah Diego membuat video klarifikasi dan menyampaikan permohonan maaf, amarah netizen belum sepenuhnya reda.

Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: di era digital, publik tidak hanya menilai isi pesan, tetapi juga rasa yang hadir di balik sebuah ucapan.

Baca Juga:

Masyarakat Sulawesi Utara dikenal memiliki kultur solidaritas yang kuat. Saat musibah terjadi, masyarakat biasanya bersatu dalam simpati, doa, dan dukungan moral. Karena itu, figur publik maupun konten kreator secara tidak langsung dituntut memiliki sensitivitas sosial lebih tinggi dibanding pengguna biasa.

Di sisi lain, kasus ini juga memperlihatkan bagaimana media sosial bekerja sangat cepat membentuk opini. Dalam hitungan jam, sebuah video dapat berubah menjadi bahan penghakiman massal. Klarifikasi dan permohonan maaf sering kali datang terlambat ketika emosi publik sudah terlanjur memuncak.

Namun di tengah derasnya kritik, publik juga perlu membedakan antara evaluasi moral dan perundungan digital. Kritik terhadap minimnya empati adalah hal wajar, tetapi serangan personal yang berlebihan juga berpotensi melahirkan ruang digital yang penuh kebencian.

Tragedi kebakaran Megamall Manado seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Bukan hanya soal standar keselamatan gedung dan kesiapan penanganan bencana, tetapi juga tentang bagaimana manusia menjaga empati di tengah budaya konten yang bergerak terlalu cepat.

Sebab pada akhirnya, di balik setiap video viral dan perdebatan media sosial, ada keluarga korban yang sedang berduka, ada penyintas yang masih trauma, dan ada masyarakat yang berharap tragedi tidak kehilangan sisi kemanusiaannya.

Bagikan:

Artikel terkait

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Advertisement

Terpopuler

Deretan Nama Pejabat dan Kepala Sekolah yang Menempati Posisi Baru di...

Sangihe

Reposisi PDIP Sangihe: Menuju Kebangkitan atau Kembali Tersungkur di Pilkada?

Suara Sangihe

Hardiknas yang Sunyi bagi Guru PPPK Paruh Waktu Sangihe

Suara Sangihe

Penanganan Dugaan Penyimpangan Dana Covid-19 Sitaro Dipertanyakan

Sitaro

Dinas Pendidikan Sitaro Disebut Kena TGR Rp400 Juta, Muncul Dugaan Pemalsuan...

Sitaro

Terkini