Dukung karya jurnalisme perbatasan Lintasutara.com
Lihat
LU TV

Saat Hujan, Tak ada Tidur Nyenyak

Terbit:

Oleh: Alvian Tempongbuka.

Tiwelo adalah salah satu area pemukiman di wilayah Lesabe Induk, Lindongan II, kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Terletak di penghujung jalan ibukota Kecamatan Tabukan Selatan, Manalu, Tiwelo menjadi akses jalan utama yang dilewati untuk menuju ke Kecamatan Tabukan Tengah maupun Tabukan Selatan Tenggara, selain jalan alternatif lainnya melalui Desa Malamenggu.

Saat terjadi hujan lebat atau hujan dengan intensitas lama, seringkali terjadi banjir di area ini. Banjir pun sudah dianggap sebagai hal biasa oleh warga yang bermukim di area ini karena sudah terjadi dari sekian tahun silam, meskipun sampai sekarang rasa was-was pastinya selalu tidak biasa.

Tiwelo selalu menjadi langganan banjir karena kebetulan berdekatan dengan bantaran Sungai dan sangat terdampak saat terjadi banjir, karena tanahnya yang rata.

Baca Juga:

Bagi warga Lesabe Induk yang bermukim di area ini, tidak ada tidur nyenyak saat datangnya hujan, karena banjir akibat hujan dapat mengenangi rumah mereka, sampai ke tempat tidur dan menyapu barang berharga serta mengancam nyawa mereka.

Sehingga, warga harus tetap ‘terjaga’ untuk menjaga harta miliknya dan keselamatan keluarga mereka.     

Masih melekat di ingatan saya saat masih di Sekolah Dasar (SD) dulu, jika terjadi banjir, saya dan anak-anak kecil lainnya naik ke punggung orang tua kami dan mengungsi ke area Lesabe induk lainnya atau ke rumah keluarga yang tidak terdampak. Hal ini menjadi solusi untuk lolos dari banjir dan untuk menjaga keselamatan.

Ingatan ini seketika nampak saat Sangihe sekarang ini sedang dilanda hujan dengan intensitas yang lama setiap harinya dan tanah longsor yang terjadi di beberapa titik, pemberitaan yang saya dapatkan dari lintasutara.com. 

Rasa was-was pun muncul karena orang tua, adik saya dan kerabat tinggal di area itu dan sempat mendapatkan kabar bahwa genangan air di depan rumah semakin tinggi.

Terkadang hal semacam ini pun menjadi trauma bagi kami, semacam ada alarm yang terus berbunyi setiap kali terjadi hujan.

Sebagai mahasiswa, dalam beberapa kesempatan, saya sempat menyuarakan permasalahan ini kepada Pemerintah Desa melalui Kepala Lingkungan, terutama mempertanyakan solusi jangka panjang yang terbaik bagi warga yang tinggal di area ini.  

Tentunya, respek terhadap pemimpin maupun yang dituakan harus kita junjung tinggi, namun di sisi lain, di tengah era transparansi sekarang ini, bumbu-bumbu kritik tak bisa kita hilangkan.

Dalam pandangan saya, kekritisan sangat penting untuk pembangunan bersama masyarakat desa, selama itu pada koridor kritik terhadap kepemimpinan atau lembaga, dan bukan pada kekurangan pribadi.

Sehingga terkait dengan kondisi di area pemukiman Tiwelo ini, pertanyaan yang muncul adalah apakah penggunaan Dana Desa bisa menanggulangi setidaknya untuk mengurangi dampak banjir? Atau apakah ada skema lainnya untuk solusi beberapa Kepala Keluarga (KK) yang tinggal disana?

Pindah selalu jadi pilihan, namun itu bagi yang punya duit. Dengan pekerjaan penduduk di area tersebut, yang sebagian besar adalah petani dan buru kasar, tentunya tak bisa langsung membeli tanah, belum lagi mendirikan rumah dan biaya untuk menafkahi keluarga. 

Ditambah lagi, urgensi solusi jangka panjang sangat dibutuhkan karena masalah ini bukanlah masalah sepele, karena luapan sungai di area tersebut  juga pernah memberi historis buruk dimana terjadi  bencana banjir disertai longsor yang berujung pada beberapa nyawa tak kunjung ditemukan.

Disadari bahwa menyelesaikan masalah seperti ini memang tak segampang membalikkan telapak tangan dan tak segampang menaruh jari diatas Smartphone, namun hal ini sudah terjadi terlalu lama, sehingga yang dibutuhkan adalah terobosan yang solutif dan kongkrit.

Asumsi saya, barangkali pemangku jabatan publik, khususnya di Kampung Lesabe Induk punya kesibukan yang begitu besar atau mungkin masalah ini terlampau sukar sehingga bertahun-tahun tak dapat menemukan solusi atau membuat langkah terobosan yang punya dampak jangka panjang untuk warga yang tinggal di daerah tersebut.   

Pembangunan fisik yang berjalan tentunya baik bagi desa, seperti jalan setapak yang menghubungkan rumah warga dan yang menuju ke lokasi wisata, namun masyarakat di area tersebut juga membutuhkan kepastian, tak hanya bantuan temporer (sementara) saat terjadi bencana ataupun ditimpa kemalangan karena bencana alam.

Langkah kongkrit dan kepastian untuk solusi masalah ini penting bagi warga di area pemukiman tersebut agar setidaknya dapat tidur nyenyak di malam hari untuk dapat bangun mencari nafkah dan melanjutkan aktifitas esok harinya.

Editor: Redaksi.

Bagikan:

Artikel terkait

Advertisement

Terpopuler

Bupati Sitaro Penuhi Pemeriksaan Lanjutan di Kejati sebagai Saksi Kasus DSP...

Sitaro

Daftar Lengkap 46 Pejabat yang Dilantik Bupati Michael Thungari

Sangihe

Regina Toasyana Sinedu: Suara Muda dari Perbatasan yang Menembus Dunia Diplomasi

Profil

Bupati Sitaro Perjuangkan Dukungan Fiskal dan Penanggulangan Bencana ke Pemerintah Pusat

Sitaro

Kasus Dana Bencana Gunung Ruang Sitaro, Kajati Sulut: Saya Pastikan Ada...

Daerah

Terkini