Sangihe, Lintasutara.com – Di tengah proses pemulihan pasca banjir dan tanah longsor yang melanda Kecamatan Tabukan Selatan (Tabsel) dan Tamako, persoalan baru kini menghantui warga. Bukan lagi sekadar membersihkan rumah dari lumpur, tetapi sulitnya memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Sejumlah warga mengeluhkan sumber air yang selama ini digunakan berubah keruh akibat material longsor dan luapan sungai. Kondisi tersebut membuat masyarakat kesulitan mendapatkan air layak untuk minum, memasak, mencuci hingga menjaga kebersihan.
Salah seorang warga Kampung Lesabe I, Kecamatan Tabukan Selatan, Hendra, mengatakan ketersediaan air bersih menjadi persoalan paling dirasakan warga setelah banjir menerjang wilayah mereka.
“Sejak banjir, air bersih sangat sulit didapat. Sumber air yang biasa kami gunakan menjadi keruh sehingga tidak bisa langsung dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. Kami berharap ada bantuan air bersih dari pemerintah sampai kondisi kembali normal,” keluh Hendra.
Di beberapa kampung terdampak lainnya, warga terpaksa memanfaatkan air dengan kualitas yang menurun atau menunggu distribusi bantuan air bersih dari pemerintah dan relawan. Kebutuhan air bersih kini menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak setelah kebutuhan pangan dan pembersihan rumah-rumah yang terdampak banjir.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dapat segera menyalurkan pasokan air bersih secara rutin sekaligus mempercepat pemulihan sarana penyediaan air bersih yang terdampak bencana. Pemeriksaan kualitas air juga dinilai penting guna mencegah munculnya penyakit akibat penggunaan air yang tercemar.
Hingga kini, upaya penanganan pascabencana masih terus dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe bersama BPBD, TNI, Polri, serta berbagai unsur terkait. Namun bagi warga di Kecamatan Tabukan Selatan dan Tamako, terpenuhinya kebutuhan air bersih menjadi prioritas utama agar aktivitas masyarakat dapat segera kembali normal.
