Sitaro, Lintasutara.com – Pemerintah pusat menyalurkan bantuan senilai Rp 539 juta untuk penanganan dampak banjir bandang yang melanda Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara. Bantuan tersebut disalurkan melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Bantuan diberikan usai kunjungan Deputi Bidang Pencegahan BNPB Pangarso Suryotomo bersama Deputi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Lilik Kurniawan ke wilayah terdampak bencana. Kunjungan itu diikuti dengan rapat koordinasi lintas instansi di tingkat daerah.
Bupati Kepulauan Sitaro, Chyntia Ingrid Kalangit, mengatakan rapat koordinasi tersebut melibatkan BNPB, BPBD Sitaro, serta para kepala Unit Pelaksana Bencana (UPB). Dari pertemuan itu, BNPB langsung menetapkan bantuan operasional bagi daerah terdampak.
“Kemarin kami menerima kunjungan Deputi V BNPB dan Deputi Kemenko PMK. Kami menggelar rapat koordinasi dengan BNPB, BPBD Sitaro, dan para kepala UPB. Dari hasil rakor tersebut, BNPB langsung memberikan bantuan sebesar Rp539 juta,” ujar Chyntia saat diwawancarai di rumah jabatan Bupati, Jumat (9/01) pekan lalu.
Selain bantuan operasional, pemerintah pusat juga menyiapkan santunan bagi para korban. Korban meninggal dunia akan menerima santunan sebesar Rp 15 juta per orang. Sementara korban luka-luka memperoleh bantuan antara Rp 3 juta hingga Rp 5 juta, menyesuaikan tingkat cedera.
Pemerintah pusat juga berkomitmen membantu pemulihan hunian warga. Chyntia menyebut BNPB akan menangani pembangunan kembali rumah warga yang hilang atau rusak berat, sementara pemerintah daerah bertanggung jawab menyiapkan lahan.
“BNPB sudah menjanjikan, pemerintah daerah akan menyiapkan lahan, dan BNPB yang akan membangun kembali rumah warga yang hilang dan rusak berat,” katanya.
Fakta – Fakta Bencana
Banjir bandang melanda Pulau Siau pada Senin dini hari, 5 Januari 2026. Bencana tersebut merusak permukiman warga, infrastruktur, serta menimbulkan korban jiwa. Hingga kini, proses penanganan darurat dan pendataan korban masih berlangsung.
Berdasarkan data sementara BNPB hingga Kamis (8/1) pukul 16.00 WIB, sebanyak 17 orang meninggal dunia. Dua orang lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam pencarian tim gabungan. Sementara itu, 26 orang mengalami luka-luka dan telah mendapatkan perawatan medis.
Bencana ini berdampak pada empat kecamatan, yakni Siau Timur, Siau Barat, Siau Barat Selatan, dan Siau Tengah. Wilayah terdampak mencakup Kelurahan Bahu, Tarorane, Paniki, dan Paseng, serta desa-desa Salili, Beong, Laghaeng, Batusenggo, dan Peling Sawang.
Kerusakan fisik tercatat cukup luas. Sebanyak 30 rumah dilaporkan hilang, 52 rumah rusak berat, 29 rusak sedang, dan 89 rusak ringan. Selain itu, satu Kantor Polres Sitaro terdampak, serta satu kios, satu bengkel, dan satu toko dilaporkan hilang. Lima jembatan rusak, termasuk jembatan penghubung Kampung Bumbiha yang terputus, disertai kerusakan sejumlah ruas jalan antarwilayah.
Akibat bencana tersebut, ratusan warga terpaksa mengungsi ke sejumlah lokasi aman, antara lain Museum di Kecamatan Siau Timur, Gereja Advent, Gereja GMIST Bethel Pesing, serta Gedung Gereja GMIST Jemaat Bethabara Paseng.
