Festival Kehati Sangihe: Saat Generasi Muda Bicara Pentingnya Jaga Alam Lewat Poster

Terbit:

Sangihe, Lintasutara.com – Taman Kota Tahuna kembali ramai. Di panggung utama, berdiri panggung sederhana dengan pajangan kolase gambar keanekaragaman hayati (Kehati).

Di bawah panggung, karya-karya fotografi bertema sosial dan lingkungan berjuntai menghiasi area depan taman, berdampingan dengan etalase stand UMKM serta tenda-tenda tempat para pelajar SMP berkumpul.

Pensil, crayon dan alat gambar lain menari lincah di tangan para pelajar tingkat pertama se-Sangihe ke lembar-lembar kertas.

Kurang lebih 23 pelajar SMP, tengah fokus pada desain poster: salah satu lomba dalam ​Festival Keanekaragaman Hayati (Kehati) Sangihe, yang diprakarsai Burung Indonesia, Kamis (29/10/2026).

Baca Juga:
Kehati
Salah Satu Peserta Lomba Poster Festival Kehati Dalam Proses Menggambar Tema Keanekaragaman Hayati (Foto : Gerald Kobis)

Ajang ini terasa tak sesederhana wadah menggambar dan mewarnai bagi para pelajar. Ada agenda pengenalan pentingnya menjaga alam bagi para penerus masa depan bangsa.

Audro Chrustofel, salah satu juri dalam lomba poster, membenarkannya. Bagi Audro, event hari ini sekaligus menjadi momentum bagi generasi masa kini, memahami pentingnya manusia menjaga lingkungan hidup sekaligus mengintervensi kesadaran masyarakat terkait hal ini.

Apalagi lanjutnya, Indonesia sekarang marak dengan kejadian kebakaran hutan dan lahan. “Sangihe sendiri menghadapi hal yang sama juga, lebih khusus juga tentang persoalan lingkungan; tambang, sampah, dan lain-lain. Kira-kira seperti itu,” tandasnya.

Secara umum, tema untuk lomba-lomba kali ini memang mencakup keanekaragaman hayati, pangan, perubahan iklim, serta beberapa tema lain yang dipilih oleh panitia penyelenggara.

Kehati
Gisel, Salah Satu Peserta Lomba Poster Festival Kehati Sangihe, Menampilkan Hasil Karyanya “Save Sangihe Forest From Mining”, Bersama Guru Pendamping (Foto : Gerald Kobis)

Pun demikian, topik kelestarian lingkungan menjadi isu hangat dalam lomba. Salah satunya, terkait satwa-satwa endemik dan korelasinya dengan kerusakan alam.

Gisel dan Ajakan Menjaga Alam Sangihe dari Potensi Kerusakan

Gisel Evania Ruitan, Siswi asal SMPN 5 Tabukan Utara turut ambil bagian dalam event ini. Ia mengangkat tema “Save Sangihe Forest From Mining”. Perempuan muda ini, menggambarkan proses penebangan hutan secara masif, juga penggunaan alat berat, hingga tangisan Burung Sariwang.

“Gambar itu tentang ada orang-orang yang sedang menebang untuk melakukan penambangan liar, terus di situ ada burung Niu (Sariwang). Burung Niu itu melambangkan dari semua hewan dan sedang menangis karena habitatnya telah hilang akibat penebangan dan penambangan liar,” aku Gisel.

Ia pun berharap melalui posternya ini, masyarakat jadi lebih sadar tentang bagaimana pentingnya menjaga kelestarian alam yang otomatis juga berbicara menjaga habitat dari satwa endemik di Sangihe seperti Sariwang.

Bagikan:

Artikel terkait

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Advertisement

Terpopuler

Kejari Minsel Tetapkan Mantan Kadis PMD Mitra Tersangka Kasus Korupsi

Berita

Pdt. Rovie Mardesa, Perpaduan Pengalaman Pastoral dan Organisasi Menuju Sekum GMIST...

Sangihe

Calon Kapitalaung Bengketang Ajukan Keberatan, Panitia Kabupaten Tegaskan Batas Waktu

Sangihe

BREAKING NEWS: Sejarah Pilkades Sangihe, Kotak Kosong Menang di Kampung Rendingan

Sangihe

Breaking News: Feybe Madonsa ‘Nahkodai’ Pemuda GMIST 2026-2031

Sangihe

Terkini