Dari Eksploitasi ke Restorasi: Kisah Warga Kampung Bulo Menjaga ‘Emas Hitam’ Laut Sangihe

Terbit:

Sangihe, Lintasutara.com – Ekosistem pesisir dan perairan laut Kabupaten Kepulauan Sangihe memegang peran vital sebagai pilar ketahanan pangan serta penopang mata pencaharian masyarakat.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan wilayah perairan laut mendominasi 93,8% atau setara 11.126,61 km² dari total luas administratif 11.863,58 km².

Ketergantungan tinggi pada sektor maritim ini tercermin di Kampung Bulo, Kecamatan Tabukan Selatan. Dengan luas daratan hanya 2,45 km², mayoritas penduduknya menggantungkan hidup dari hasil laut.

Kampung ini memiliki ekosistem pesisir subur dengan tutupan padang lamun mencapai 57%—tertinggi di tingkat kecamatan—serta terumbu karang yang masih terjaga.

Baca Juga:

Kondisi oseanografi dan substrat pasir berlumpur di wilayah ini membentuk habitat ideal bagi biota bernilai ekonomis tinggi, khususnya teripang (Holothuroidea).

Namun, kawasan konservasi perairan berbasis masyarakat di pulau kecil ini kerap menghadapi ancaman eksploitasi berlebihan dan minimnya kapasitas ilmiah lokal.

Kolaborasi Akademisi dan Komunitas

Menjawab tantangan tersebut, tim dosen Politeknik Negeri Nusa Utara (Polnustar) Tahuna yang dipimpin Edwin Oscar Langi, Jefri Anthonius Mandeno, dan Handoko Jayaputra Palawe, berkolaborasi dengan LSM Negeri Dugong (Faisal Umar) dan Dive Centre Tahuna (Jonli Mabuka cs) menggelar program pengabdian masyarakat.

Kegiatan difokuskan untuk mengoptimalkan peran Kelompok Pengawas Masyarakat (POKMASWAS) setempat berbasis taksonomi dan bioekologi teripang menggunakan prinsip Sains Warga.

Anggota POKMASWAS dilatih beralih dari pola pengawasan pasif menuju pemantauan berbasis data terukur, termasuk inventarisasi non-destruktif dan pemetaan spasial pada kawasan konservasi seluas 3,53 hektar.

Peran Ekologis Teripang

Secara bioekologi, teripang memegang peran krusial. Sebagai deposit feeder, hewan ini mengurai bahan organik dalam sedimen dasar laut dan mengoksidasi lapisan pasir untuk menjaga kejernihan air.

Laut
Hasil Olahan Teripang di Kampung Bulo (Foto : Tim Peneliti)

Proses penguraian melepaskan nutrien terlarut yang menjadi pupuk alami bagi pertumbuhan padang lamun.
Siklus habitat terintegrasi pun terbentuk: padang lamun berfungsi sebagai area asuhan bagi teripang muda, sementara terumbu karang dan substrat berpasir menjadi ruang jelajah teripang dewasa.

Keberadaan makhluk bentik ini menjamin keseimbangan rantai kehidupan laut.

Pemulihan Signifikan

Data operasional riset menunjukkan hasil nyata. Pada periode degradasi awal (2019-2020), stok teripang menurun drastis akibat eksploitasi berlebihan.

Tahun 2022 dilakukan penebaran indukan dan penutupan kawasan dari aktivitas penangkapan (area closure). Pada periode intervensi (2026), terjadi lonjakan stok populasi secara signifikan—teripang mudah ditemukan pada rentang jarak 1 hingga 3 meter.

Tim berhasil mendata 220 individu dari 10 spesies komersial, termasuk ditemukannya kembali spesies langka dunia yang dilindungi CITES Appendiks II, yakni teripang susu hitam (Holothuria whitmaei).

POKMASWAS kini bertransformasi menjadi mandiri secara ilmiah, mampu melakukan identifikasi taksonomi mendalam serta menginterpretasikan analisis data sebaran spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG).

Instrumen pengelolaan lokal berupa Rencana Aksi Konservasi berhasil disahkan dan resmi dikunci dalam struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Kampung Bulo untuk periode jangka panjang 2027-2034.

Kebanggaan Warga

Mantan Kapitalaung Kampung Bulo yang kembali mencalonkan diri, Desmon Sondak, menyatakan kebanggaan mendalam atas pemulihan ekosistem ini.

“Dari yang dulunya tidak ada, sekarang teripang sudah banyak di lokasi tersebut. Dari jarak 1 sampai 3 meter itu terdapat beberapa jenis. Ini adalah satu kebanggaan tersendiri bagi kami di mana kami bisa memanfaatkan kekayaan laut yang ada di Kampung Bulo,” ungkap Desmon dengan nada haru.

Melalui penerapan model penataan perlindungan aktif berupa jeda tangkap berkala (periodic closure fishery), kolaborasi pemikiran akademis dan ketangguhan aksi komunitas ini membuktikan bahwa tata kelola maritim berbasis lokal jauh lebih efektif dalam meregenerasi stok hayati laut dibandingkan konsep perlindungan pasif konvensional.

Bagikan:

Artikel terkait

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Advertisement

Terpopuler

Breaking News: Thungari Kembali Lantik Pejabat, Sangihe Ketambahan Satu Badan

Sangihe

Bupati Sangihe Lantik 62 Pejabat, Ingatkan Sistem Kerja Melayani Bukan Dilayani

Sangihe

104 Guru Sangihe Ikuti Pelatihan BCKS, Disiapkan Jadi Pemimpin Sekolah

Sangihe

Sangihe Kirim Tiga Siswa SD ke OGN 2026 di Ternate

Sangihe

Final FIFA ASEAN Cup 2026: Indonesia-Thailand Sama Kuat Di Babak Pertama

Olahraga

Terkini