Di ujung utara negeri ini, waktu berjalan dengan caranya sendiri. Laut tidak pernah tergesa, angin datang dan pergi tanpa janji, dan manusia Sangihe tumbuh dengan kesadaran bahwa hidup adalah soal bertahan—bukan menguasai.
Enam ratus satu tahun lalu, sebuah peradaban pulau mulai menulis ceritanya. Hari ini, Sangihe mengenang usia itu bukan sebagai angka, melainkan sebagai perjalanan panjang tentang ketekunan, kehilangan, dan harapan yang tak pernah benar-benar padam.
Budaya leluhur Sangihe lahir dari kehidupan yang keras, tetapi penuh makna. Dari tanah yang terbatas dan laut yang tak selalu ramah, leluhur mewariskan nilai mekakendage—hidup saling mengasihi, menjaga, dan tidak berjalan sendiri. Nilai itu yang membuat orang-orang Sangihe mampu bertahan, bahkan ketika sejarah tak selalu berpihak.
Di tengah perjalanan usia itu, Tulude menjadi penanda waktu yang paling jujur. Ritual ini tidak menawarkan kemewahan, tidak pula menjanjikan jawaban instan. Tulude hanya mengajak manusia Sangihe untuk berhenti sejenak—menoleh ke belakang, lalu melangkah ke depan dengan hati yang lebih ringan.
Memotong tamo bukan sekadar simbol. Ia adalah pengakuan bahwa tidak semua hal dari masa lalu harus dibawa. Ada luka yang harus dilepas, ada kegagalan yang cukup dijadikan pelajaran, dan ada rasa syukur yang harus tetap diucapkan, betapapun berat tahun yang telah dilewati.
Di usia ke-601 ini, Sangihe seperti kembali menjalani Tulude bersama.
Pulau-pulau kecil, kampung-kampung pesisir, hingga masyarakat di perbatasan, sama-sama menyimpan cerita tentang perjuangan hidup: tentang cuaca yang tak menentu, ekonomi yang tak selalu ramah, dan jarak yang kerap menjadi penghalang.
Namun seperti leluhur dahulu, masyarakat Sangihe belajar satu hal penting: bertahan bukan berarti berhenti berharap. Justru dari keterbatasan itulah harapan dirawat—pelan, diam-diam, tetapi konsisten.
HUT ke-601 menjadi ruang refleksi:
Apakah pembangunan hari ini masih menyisakan ruang bagi nilai-nilai leluhur?
apakah kemajuan tetap memberi tempat bagi manusia kecil di kampung-kampung pulau?
dan apakah suara mereka masih terdengar di tengah gegap gempita seremoni?
Tulude mengingatkan bahwa masa depan tidak dibangun dengan melupakan akar. Ia tumbuh dari ingatan kolektif, dari nilai kebersamaan, dan dari keberanian untuk tetap setia pada jati diri.
Sangihe telah berjalan jauh.
601 tahun adalah bukti bahwa pulau-pulau kecil ini tidak rapuh, hanya sering dilupakan. Dan selama Tulude masih dirayakan, selama nilai leluhur masih hidup dalam laku sehari-hari, Sangihe akan terus bertahan—dengan caranya sendiri.
Selamat Hari Ulang Tahun ke-601 Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Dari laut, dari kampung, dari doa-doa yang sederhana—Sangihe terus menjaga hidup.
