Manado, Lintasutara.com – Di bawah terik matahari Manado yang menyengat, langkah Wakil Bupati Kepulauan Sitaro, Heronimus Makainas, menyatu dengan langkah Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus. Keduanya menapaki halaman Gedung Pingkan Matindas di Jalan Ahmad Yani, Sario Utara — sebuah bangunan tua yang kini menunggu napas baru.
Gedung itu renta. Dinding kusam, kaca retak, dan rumput liar menandai waktu yang terlalu lama dibiarkan. Namun bagi Heronimus, bangunan ini bukan sekadar beton berdebu. Ia adalah saksi hidup perjalanan seni dan kebanggaan masyarakat Sulawesi Utara.
“Setiap batu di tempat ini punya cerita. Kalau kita biarkan hilang, kita kehilangan bagian dari diri kita sendiri,” ujar Heronimus, suaranya pelan tapi tegas, saat mendampingi Gubernur meninjau kondisi gedung beberapa waktu lalu. Ia menyimak serius setiap arahan Yulius Selvanus yang meminta Dinas PUPR mempercepat renovasi bangunan bersejarah itu.
Dalam diam yang sarat makna, Heronimus menarik kenangan lama. Ia teringat pada gedung kolam renang Swembak di Siau Timur, Sitaro — kini terbengkalai dan nyaris dilupakan. “Melihat kondisi Pingkan Matindas ini, saya langsung teringat pada Swembak. Jangan sampai nasibnya sama—terlupakan dan dibiarkan rusak,” katanya. Ia berharap perhatian Gubernur juga menjangkau bangunan bersejarah di daerah lain, termasuk Sitaro.
Pingkan Matindas dulu adalah jantung kebudayaan Sulawesi Utara. Dari panggung teater, tari, hingga pameran lukisan, semuanya pernah hidup di sini. Nama “Pingkan Matindas” sendiri diambil dari dua tokoh legendaris Minahasa—simbol keberanian dan keteguhan yang kini berusaha dihidupkan kembali melalui proyek revitalisasi ini.
Bagi Heronimus, kehadirannya di lokasi bukan sekadar mendampingi kebijakan provinsi. Ia menyebutnya panggilan batin. “Sebagai anak daerah, saya merasa ini adalah tanggung jawab moral kita semua—terutama bagi generasi muda yang harus tahu di mana akar budayanya tumbuh,” ujarnya usai peninjauan.
Langkah cepat pemerintah provinsi disambut hangat warga sekitar. Mereka berharap gedung yang sempat terendam banjir pada 2014 itu segera berdiri megah kembali. “Angin segar,” begitu warga menyebut semangat Gubernur dan kehadiran Wakil Bupati Sitaro di tengah upaya kebangkitan seni dan budaya Sulut.
Kini, di balik dinding tua Pingkan Matindas, harapan baru mulai berdenyut. Dan di antara pejabat yang hadir, Heronimus Makainas tampak bukan sekadar pendamping gubernur, tapi pengingat—bahwa menjaga budaya bukan nostalgia masa lalu, melainkan janji untuk masa depan.
(Penulis / Editor : Boni Baganu)
