Sitaro, Lintasutara.com – Banjir bandang yang menerjang sejumlah wilayah di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, bukan hanya menyisakan kerusakan fisik dan korban jiwa. Di balik rumah-rumah yang tertimbun lumpur dan puing, tersimpan luka lain yang tak kasat mata: trauma psikososial warga yang hingga kini masih membekas.
Bagi sebagian warga, dentuman air bercampur batu dan kayu yang datang tiba-tiba masih terngiang di kepala. Setiap hujan turun, kecemasan kembali muncul. Banyak yang mengaku sulit tidur, mudah panik, bahkan memilih berjaga semalaman saat cuaca memburuk.
“Kalau hujan keras sedikit, jantung sudah berdebar. Takut kejadian itu terulang,” ungkap seorang ibu pengungsi di Siau Timur.
Anak-anak dan Perempuan Paling Rentan
Kelompok paling terdampak secara psikologis adalah anak-anak dan perempuan. Anak-anak kehilangan rasa aman, rutinitas sekolah terhenti, dan ruang bermain berubah menjadi tempat pengungsian. Sebagian anak menunjukkan perubahan perilaku: lebih pendiam, mudah menangis, atau ketakutan saat mendengar suara hujan deras.
Sementara itu, perempuan—khususnya para ibu—menanggung beban ganda. Selain mengurus kebutuhan keluarga di tengah keterbatasan, mereka juga harus menenangkan anak-anak yang trauma, meski diri sendiri masih diliputi rasa kehilangan.
“Rumah habis, barang habis, tapi anak-anak yang paling kasihan. Mereka selalu tanya kapan bisa pulang,” kata seorang warga Kelurahan Bahu dengan suara bergetar.
Kehilangan Rumah, Hilangnya Rasa Aman
Bagi warga Pulau Siau, rumah bukan sekadar bangunan. Ia adalah ruang sosial, tempat bertumbuhnya keluarga dan ikatan komunitas. Ketika rumah rusak atau hanyut, rasa aman ikut runtuh.
Banyak pengungsi memilih bertahan di gereja atau rumah kerabat karena belum berani kembali ke lokasi terdampak. Ketidakpastian cuaca dan ancaman banjir susulan membuat trauma terus berulang, memperpanjang tekanan psikologis.
Solidaritas Menguat, Tapi Trauma Tak Hilang
Di tengah krisis, solidaritas warga menjadi penopang utama. Gereja, tetangga, dan keluarga besar membuka pintu bagi para pengungsi. Dapur umum dan bantuan logistik membantu bertahan secara fisik.
Namun, para pengamat kebencanaan menilai dukungan psikososial belum menjadi perhatian utama. Bantuan masih didominasi kebutuhan logistik, sementara pemulihan mental warga berjalan secara alamiah tanpa pendampingan profesional.
“Trauma bencana tidak selalu terlihat langsung. Jika tidak ditangani, dampaknya bisa jangka panjang, terutama pada anak-anak,” ujar seorang relawan kemanusiaan di lokasi pengungsian.
Perlu Pendekatan Kemanusiaan Berkelanjutan
Banjir bandang di Siau menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak cukup berhenti pada evakuasi dan bantuan pangan. Pendampingan psikososial, ruang aman anak, serta konseling trauma menjadi kebutuhan mendesak agar warga bisa pulih secara utuh.
Tanpa itu, hujan akan terus menjadi momok, bukan sekadar fenomena alam, tetapi pemicu ingatan akan malam panjang penuh ketakutan.
Di Pulau Siau, banjir mungkin telah surut. Namun bagi banyak warga, luka batin masih mengalir—pelan, dalam, dan membutuhkan waktu serta perhatian untuk disembuhkan.
