Sitaro, Lintasutara.com – Semburan erupsi pada Rabu, 17 April lalu berdampak pada rusaknya rumah warga di sejumlah Tagulandang. Erupsi yang menyebabkan hujan batu bahkan merusak sejumlah atap rumah, tempat ibadah dan fasilitas pemerintah.
Ibu E. Palit (54) warga Kelurahan Balehumara menyebutkan, saat kejadian hujan batu tersebut dirinya bersama keluarga telah mengungsi ke tempat aman.
“Besoknya kami kembali untuk melihat kondisi rumah, di dalamnya sudah penuh dengan batu bahkan ada yg sebesar kepalan orang dewasa,” ujarnya.
Hal yang sama juga di sampaikan oleh ibu F. Tinungki (43) rumahnya atap rumahnya bahkan harus ambruk akibat bencana itu.
“Rumah kami juga sama bahkan rata-rata di sekitar lingkungan ini rumahnya semua bocor,” sambungnya.

Akibat seluruh perabotan rumah serta peralatan elektronik harus basah akibat hujan yang melanda pulau Tagulandang usai erupsi.
Baca Juga : Status Gunung Ruang Naik Level, Ini Kata Pemerintah Sitaro
“Kasur, pakaian harus basah akibat hujan dan hampir semua ruma yang ada di sekitar ini mengalami hal sama,” lanjutnya.
Selain kebutuhan makanan dan perlengkapan tidur, ia meminta agar pemerintah dapat memberikan bantuan berupa terpal untuk menutup sementara atap rumah.

“Kalau makanan saat ini masih bisa tanggulangi tapi kalau boleh kami minta seng kalaupun tidak terpal untuk menutup sementara atap kami yang bocor,” tandasnya.
Berdasarkan data sementara yang di sampaikan Dandrem 131/Santiago Brigjen TNI Wakhyono SSos MIP mengatakan, hampir ratusan rumah yang rusak akibat hujan batu.
“Hingga hari kedua data yang kami hampir seratus rumah warga yang rusak,” jelasnya, Sabtu, (20/04)
Bahkan tidak hanya rumah warga, fasilitas pemerintah dan rumah ibadah juga terdampak.
“PLN juga terdampak, kemarin kami sudah tanya, memang kondisinya bocor dan kemudian basah mereka takut untuk menghidupkan tunggu sampai kering dan kami memahami dengan kondisi itu, hal sama juga terjadi di gereja-gereja” tandasnya.
(Bonny)
