Dukung karya jurnalisme perbatasan Lintasutara.com
Lihat
LU TV

Matinya Sebuah Kultur, R2 Siap Kawal Warga Pesisir Utara Manado

Terbit:

Manado, lintasutara.com – Banyak cara dilakukan untuk membangun daerah sendiri. Seperti yang dilakukan Rani Raha (R2) atau tagline politik R2 Jo adalah Wanita yang dikenal sebagai manager top liga bola kaki plastik (Boplas), suami dari Meidison Gabriel alias Borju yang disebut para anak muda yang berada dipesisir pantai manado utara ini, ingin berjuang melalui jalur politik membangun daerah tercinta khususnya di Dapil 3 Tuminting, Bunaken, dan Kepulauan ini.

Dia pun memilih partai Hati Nurani Rakyat (HANURA) besutan Oesman Sapta Odang (OSO) di Kota Manado, sebagai jembatan meraih impiannya. “Saya siap bersaing menjual program. Dan siap juga bersaing caleg pria. Wanita tidak boleh kalah dalam politik,” tutur R2, kepada lintasutara.com, Senin (11/12/2023).

Ada yang bilang caleg perempuan susah dalam bersosialisasi. “Saya kira itu anggapan salah. Malah caleg perempuan itu lebih gampang bersosialisasi dan berbaur dengan masyarakat,” ujar R2 Jo, sapaan akrabnya.

Soal kompetensi, alumni Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi Manado itu, mengaku berani diadu dalam hal kompetensi. Perempuan 33 tahun ini banyak belajar tentang bagaimana jeritan aspirasi warga di pesisir pantai utara manado ini.

Menurut Caleg Perempuan Nomor Urut 3 dari Dapil 3 Manado ini, bisa dilihat bagaimana matinya sebuah kultur

Baca Juga:

“Pasca reklamasi, kesenjangan sosial pun mengangah. Nelayan-nelayan yang kalah berebut akses pantai dengan bisnis-bisnis raksasa itu beralih profesi. Sebagian pemuda menjadi tukang parkir serabutan, sejumlah kecil membangun kios sekadarnya untuk menjual rokok, sabun mandi, kopi dan mi instan, serta obat nyamuk. Tapi lain memilih menjual tanah dan menyingkir jauh, sisanya yang bertahan menjadi penonton gemerlapnya hidup kota.

Manado Utara yang dulu indah –Kini berubah menjadi kota dengan sejarah yang diciptakan untuk membedakan antara mereka yang beradab dan yang barbar, mereka yang terobsesi dengan progres dan yang mencintai proses. Kota bukanlah zona damai. Kota adalah monumen6 sekaligus arena pertarungan kelas yang dalam banyak catatan, selalu dimenangkan minoritas penguasa kapital,” ungkap Rani Raha

(Albert)

Bagikan:

Artikel terkait

Advertisement

Terpopuler

Nusa Utara dalam Pusaran RTRW Sulut: Provinsi Baru atau Ilusi yang...

Suara Sangihe

Kasus Dana Bencana Gunung Ruang Sitaro, Kajati Sulut: Saya Pastikan Ada...

Daerah

Mahasiswi Polnustar Jadi Korban Banjir Bandang Siau, Kampus Berduka dan Kehilangan

Sitaro

Bupati Sitaro Penuhi Pemeriksaan Lanjutan di Kejati sebagai Saksi Kasus DSP...

Sitaro

Harsen Roy Tampomuri Masuk Jajaran Dewan Pakar DPP APDESI 2026–2031

Nasional

Terkini