Sejatinya masih banyak kasus sejenis Embo dan KTP bertebaran di negeri ini. Dan kitapun selalu mencari instrument untuk menjawabnya. Disinilah agama, Ilmu pengetahuan, filsafat dan seni memainkan perannya. Kitab suci, buku-buku pengetahuan, hingga dialog filsafat akan menuntun akal dan fikiran kita untuk menemukan kebenaran, lalu dimana posisi seni?. Perasaan dan intuisi merupakan alat bagi seni dalam menemukan kebenaran yang paling mendasar, universal dan abadi. Dasarnya adalah pengalaman inderawi manusia yang bersifat subjektif, kebenaran pengalaman perasaan intuitif manusia ini hanya dapat dihayati dan dirasakan, dalam penghayatan itulah manusia menyentuh suatu kebenaran yang tak kuasa dijelaskan.
Kualitas perasaan tersebut harus dialami sendiri oleh manusianya sehingga ia mampu menemukan kebenarannya. Seni bertujuan untuk menciptakan realitas baru dari kenyataan pengalaman nyata. Bentuk seni itu sendiri adalah realitas yang dihayati secara indrawi. Dengan demikian, kebenaran seni bersinggungan dengan kebenaran empiris dan kebenaran ide. Dasarnya adalah pengalaman empiris manusia, tetapi yang ditemukannya adalah realitas baru yang non-empiris.
Baca Juga: Politik Identitas Penyelenggara Pemilu
Sebagai lembaga kebenaran bagi manusia, peran agama, ilmu pengetahuan, filsafat dan seni amatlah menentukan, oleh karenanya para pengampu semacam pendeta, guru, filsuf dan seniman merupakan sosok-sosok utama yang menjadi pelita bagi umat manusia. Sayang seribu sayang ditanah ini pemahaman para pemangku negeri terhadap seni baru sebatas sarana hiburan semata. Seni belum dipahami sebagai sebuah lembaga yang dapat menjadi pembentuk gagasan kebenaran bagi umat manusia, alhasil sepinya jalan seni itu sendiri. Seniman-seniman terasing dari masyarakatnya. ia tetap berkarya karena panggilan hati namun karyanya seringkali berjarak dan tak menembus ruang yang setara bersanding bersama agama, ilmu pengetahuan ataupun filsafat. Makanya tak heran bila kita temukan kasus-kasus yang dialami Embo seperti tadi dikeseharian kita.
…Karena untuk menentukan BENAR pun, pikiran kita masih belum paripurna…

