Seni Sebagai Lembaga Kebenaran

Oleh: Satria Yanuar Akbar

Sore itu rintik air bertaburan di Kota Manado. Hujan ini bersahabat, tidak menakutkan namun menyelimuti manja tubuh dengan nuansa dinginnya. Saya tengah menghabiskan potongan mangga terakhir yang matang atas kemurahan semesta dari pohon rindang di halaman Wale Teater – Pakowa, sembari mendengarkan alunan single lawas FKJ bertajuk “Ten Years Ago”.

FKJ seorang musisi multi instrument asal Perancis ini mencuri perhatian saya, bukan hanya karena kemampuan olah melodinya yang “chill” dan bersahaja, namun musiknya dapat menembus sekat batin dan memantik kesadaran. Ya… bagi seniman medioker seperti saya, olah rasa dan penalaran kebatinan menjadi hal “mahal” yang selalu didambakan untuk memberi nyawa dalam setiap pergumulan penciptaan karya seni.

Alunan melodi FKJ yang mendayu membawa pikiran saya menerawang kembali kesepuluh tahun yang lalu disalah satu sudut kampus seni di Kota Bandung. Saat itu, saya mengikuti obrolan asyik bersama salah satu begawan seni terkemuka Indonesia Prof. Jakob Soemardjo. Diskusi hari itu bertutur tentang esensi agama, Ilmu pengetahuan, filsafat dan seni sebagai lembaga kebenaran bagi manusia.

Hakikat “kebenaran” bukanlah sesuatu yang ada dalam kesadaran manusia sejak lahir. Kesadaran terhadap kebenaran harus dicari dan ditemukan hingga disetujui sebagai sebuah pedoman hidup bagi dirinya dan orang lain. Seringkali pemaknaan akan kebenaran ini menjadi ambivalen, terutama di masyarakat Indonesia. Contoh cerita “klasik” yang terjadi baru-baru ini di Manado bertutur tentang pengurusan KTP dan Kartu Vaksin. -“Diceritakan si Embo baru saja berumur 17 tahun dan menurut aturan kependudukan, sudah saatnya ia mengurus KTP.

Lalu bersegeralah si Embo mendatangi kantor Disdukcapil dan mengisi seluruh persyaratan yang dimintakan. Diakhir persyaratan tercantum pra-syarat bahwa si Embo harus memiliki Kartu Vaksin. Ingat dirinya belum di vaksin, maka bersegeralah si Embo menuju Puskesmas terdekat untuk mendapatkan vaksin. Tak disangka, tatkala Embo berada di Puskesmas, ia diminta untuk mendaftarkan no KTP sebagai pra-syarat mendapatkan vaksin. Si Embo bingung mencari kebenaran!. Persyaratan mendapat KTP adalah memiliki kartu vaksin, tapi untuk mendapatkan vaksin kita perlu KTP? Lalu mana yang benar?

Ikuti Berita dan Informasi Terbaru dari Lintasutara.com di GOOGLE NEWS

Bagikan Artikel:

Artikel terkait

Terpopuler

BERITA TERKINI