Gugatan Trump Ditolak MA AS, Partai Republik Mulai Mengakui Kemenangan Biden

Global, LintasUtara.com – Pasca Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat menolak Gugatan calon Presiden dari Partai Republik Donald Trump terkait adanya kecurangan dalam Pilpres AS 2020, satu per satu anggota Partai Republik mulai mengakui kemenangan Presiden terpilih dari Partai Demokrat Joe Biden.

Dimulai dari Pimpinan Partai Republik di Senat AS, Mitch McConnell, yang secara terbuka dalam pidatonya di sidang Senat memberikan selamat kepada Biden dan Harris.

McConnell juga menegaskan keabsahan electoral college sebagai bentuk pemilihan yang dianut AS, sehingga seharusnya diterima oleh semua pihak.

“Banyak dari kita yang berharap pemilihan presiden akan menghasilkan hasil yang berbeda, tapi sistem pemerintahan kita memiliki proses untuk menentukan siapa yang akan dilantik pada 20 Januari. Electoral College telah berbicara”, ujar McConnell, dilansir dari Associate Press, Rabu (16/12/2020).

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, akan bertemu dengan penggantinya di pemerintahan yang baru, Antony Blinken. Dan, salah satu sekutu terdekat Trump yang juga Senator dari Partai Republik, Lindsey Graham dari Carolina Selatan mengatakan, dia telah berbicara dengan beberapa calon anggota Kabinet pilihan Biden.

Senator Mitt Romney dari partai Republik juga telah menelepon Joe Biden. Dia memuji Biden yang tetap tenang meskipun di tengah kerasnya kampanye memperebutkan kursi kepresidenan. Keduanya juga membahas tantangan politik AS ke depannya.

Ditambah lagi, Senator Partai Republik Ron Johnson dari Wisconsin, yang bertindak sebagai ketua Komite Keamanan Dalam Negeri dalam sidang Senat membahas tentang kecurangan pemilu hari ini, Kamis (16/12/2020), tidak “berencana” untuk bergabung dengan Partai Republik untuk menentang hasil pemilihan.

Sebelumnya, Trump dan Partai Republik menggugat hasil pemilu presiden AS. Kubu partai Republik, yang didukung oleh lebih dari 100 anggota Kongres dan 18 negara bagian, bersikukuh telah terjadi kecurangan dalam pemilu di beberapa negara bagian, seperti Texas, Michigan, Georgia, Pennsylvania dan Wisconsin.

Namun, gugatan ini pun terpental di Mahkamah Agung AS karena dianggap di-backed up oleh Presiden sendiri, tidak memiliki dasar hukum dan terkesan menolak hak suara rakyat AS dalam pemilihan yang diselenggarakan secara demokratis.

Bahkan, mayoritas Hakim Agung yang berlatar belakang konservatif yang berasosiasi dengan Partai Republik menolak gugatan tersebut.

Hakim Amy Conney Barret, yang ditunjuk oleh Trump sendiri sebelum Pilpres dengan tegas menolak gugatan tersebut. Sama halnya dengan Hakim Neil Gorsuch dan Brett Kavanaugh, yang sebelumnya dibela mati-matian oleh Trump saat penunjukkan mereka pun menandatangani perintah pengadilan terkait penolakan gugatan tersebut.

Sementara dua hakim yang berlatar belakang konservatif lainnya, Hakim Samuel Alito dan Hakim Clarence Thomas, mengatakan mereka akan mengizinkan untuk gugatan negara bagian Texas untuk, tetapi tidak akan mengijinkan negara bagian lainnya untuk menyelesaikan hasil pemungutan suara.

Keputusan hakim Agung ini semakin mengukuhkan kemenangan Biden dalam Pilpres AS dan memuluskan langkahnya untuk dilantik sebagai Presien AS pada 21 Januari mendatang.

Sementara Trump mengkritik keras keputusan para Hakim Agung tersebut, “Mahkamah Agung benar-benar membuat kita kecewa. Tidak punya kebijaksanaan, tidak punya keberanian!”, tulis Trump melalui akun twitter resminya.

(AM)

Ikuti Berita dan Informasi Terbaru dari Lintasutara.com di GOOGLE NEWS

Bagikan Artikel:

Artikel terkait

Terpopuler

BERITA TERKINI