Imbas Covid-19, Gadis Remaja yang Terjun Jadi Pekerja Seks di Kenya Meningkat

Global, LintasUtara.com – Pandemi Covid-19 yang melanda dunia kurang lebih tujuh bulan ini membuat banyak gadis remaja di Kenya, terpaksa bekerja sebagai pekerja seks untuk membantu ekonomi keluarga.

Para perempuan ini pun sampai lupa sudah berapa kali mereka ‘tidur’ dengan para lelaki selama 7 bulan terakhir, karena saking banyaknya pelanggan yang datang. Bahkan, mereka mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi, dengan dilecehkan dan dipukuli saat meminta bayaran.

Mereka bahkan hanya dibayar 1 dolar AS atau setara Rp14.645 (kurs rupiah tanggal 21/10) untuk membantu memberi makan keluarga mereka di tengah susahnya mendapatkan pekerjaan di masa Pandemi.

“Kalau bisa dibayar 5 dolar AS (Rp87.864), itu seperti mendapatkan emas,” kata seorang perempuan berusia 16 tahun, yang duduk di tempat tidur kecil, kepada Associated Press.

Gadis tersebut mengungkapkan ia bekerja bersama dengan dua temannya, yang berusia 17 dan 18 tahun. Mereka tinggal dengan berbagi kamar yang mereka sewa dengan biaya 20 dolar AS per-bulan.

UNICEF, Badan PBB khusus untuk anak-anak, mengungkapkan kalau pandemi Covid-19 beresiko tinggi menjangkiti anak-anak.

PBB juga memperingatkan, jutaan anak mungkin dipaksa untuk melakukan pekerjaan eksploitatif dan berbahaya, dan penutupan sekolah memperburuk masalah tersebut.

Mary Mugure, mantan pekerja seks, yang meluncurkan program Night Nurse untuk menyelamatkan gadis-gadis yang mengikuti jalannya, mengatakan bahwa kurang lebih 1.000 siswi telah bekerja menjadi pekerja seks di tiga lingkungan di kota Nairobi, sejak sekolah di Kenya ditutup pada bulan Maret.

Sebagian besar dari anak-anak tersebut bekerja sebagai pekerja seks karena berusaha membantu orang tua mereka dalam melunasi tagihan rumah tangga. Bahkan, yang termuda, kata Mugure, berusia 11 tahun.

Masing-masing dari tiga gadis yang berbagi kamar memiliki beberapa saudara, yang dibesarkan oleh seorang ibu tunggal. Mereka melihat sumber pendapatan ibu mereka lenyap ketika pemerintah Kenya melakukan tindakan keras untuk mencegah penyebaran virus.

Dua dari ibu mereka bekerja dengan mencuci pakaian orang-orang yang tinggal di dekat lingkungan berpenghasilan rendah di Dandora. Tetapi begitu ada kasus pertama penularan lokal Covid-19 di area tersebut, tidak ada yang menginginkan ibu mereka bekerja di tempat itu lagi.

Ibu dari remaja ketiga menjual kentang di pinggir jalan. Usaha tersebut pun bangkrut akibat penerapan jam malam baru oleh Pemerintah Kenya.

Sebagai anak tertua, para gadis tersebut mengatakan bahwa mereka mengambil tanggung jawab untuk membantu ibu mereka memberi makan keluarga mereka.

“Sekarang saya bisa memberikan 1,84 dolar AS kepada ibu saya setiap hari dan itu membantunya memberi makan (anak) yang lain,” kata salah satu gadis.

Phillista Onyango, pemimpin Jaringan Afrika untuk Perlindungan dan Pencegahan Pelecehan dan Penelantaran Anak yang berbasis di Kenya, mengungkapkan besarnya dampak dari penutupan sekolah di tengah Pandemi Covid-19.

Menurutnya, orang tua di lingkungan berpenghasilan rendah lebih memilih untuk menyuruh anak mereka bekerja daripada tinggal di rumah, dimana banyak dari anak-anak tersebut terjebak ke dalam penyalahgunaan narkoba dan tindak kejahatan.

Onyango mengatakan, penegakan hukum bagi pekerja anak masih lemah. Undang-undang ketenagakerjaan Kenya menyatakan seseorang yang dikategorikan sebagai ‘anak’ adalah yang berusia di bawah 18 tahun.

Undang-undang ini katanya, mengizinkan anak-anak berusia 13 hingga 16 tahun untuk bekerja paruh waktu dan “tugas kerja ringan”. Mereka yang berusia 16 hingga 18 tahun bisa bekerja di industri dan konstruksi, meski tidak di malam hari.

Berdasarkan laporan Departemen Tenaga Kerja AS tahun 2019, Kenya telah membuat “kemajuan moderat” dalam menghapus bentuk-bentuk pekerjaan yang buruk bagi anak-anak, seperti eksploitasi seksual, tetapi masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Laporan tersebut juga mengungkapkan, Kenya memiliki 85 pengawas ketenagakerjaan, tapi jumlah tersebut terlalu sedikit untuk mengawasi lebih dari 19 juta pekerja.

Kenya telah mulai menerapkan pembatasan sosial dan pertemuan publik karena jumlah kasus COVID-19 yang dikonfirmasi di negara itu masih relatif rendah, dan berencana membuka kembali sekolah secara bertahap bulan ini. Namun, menurut Onyango, banyak dari anak-anak yang mulai bekerja ketika sekolah ditutup, tidak akan kembali bersekolah.

Menurut data UNICEF, negara-negara di Sub-Sahara Afrika termasuk Kenya memiliki angka putus sekolah tertinggi di dunia. Hampir seperlima anak-anak antara umur 6 dan 11 dan lebih dari sepertiga remaja antara umur 12 dan 14 , tidak bersekolah.

Pekerja seks berusia 16 tahun dan dua temannya mengatakan mereka berharap tidak akan melakukan pekerjaan ini selama sisa hidup mereka, tetapi menurut mereka, peluang untuk kembali bersekolah sangatlah kecil.

“Di lingkungan kami, jika Anda tidak hamil dan masih bersekolah di usia 16 tahun, maka Anda berhasil. Apabila menghindari kehamilan, kami hampir pasti lulus dari Sekolah Menengah dan membuat sejarah,” tutupnya.

(AM)

Ikuti Berita dan Informasi Terbaru dari Lintasutara.com di GOOGLE NEWS

Bagikan Artikel:

Artikel terkait

Terpopuler

BERITA TERKINI