Mengharukan, Kenangan Ade Irma Kembali Hidup di Pekarangan Oma Alpiah

Sangihe, LintasUtara.com – Barangkali belum banyak yang tahu siapa Oma Alpiah Makasebape, Perempuan 84 tahun yang kini menetap di kelurahan Dumuhung, kecamatan Tahuna Timur, kabupaten Kepulauan Sangihe. 

Namun di mata budayawan dan sejarawan Sangihe, Oma Alpiah merupakan figur yang dikagumi atas dedikasinya, bahkan dikisahkan salah satu komunitas film maker, sebagai “Pengasuh 65”. 

Ya, Oma Alpiah, sang pengasuh Ade Irma Suryani Nasution, yang menjadi salah satu korban kisah pilu gejolak perebutan kekuasaan tahun 1965, yakni peristiwa G30S PKI atau juga Gestapu.

Hari ini, Rabu (30/09/2020) kisah haru menghiasi wajah penuh keriput Oma Alpiah. Bagaimana tidak, setelah bertahun-tahun ranum dalam kenangannya bersama Almarhumah Ade Irma, kini Oma bisa menyaksikan wajah Ade melalui monumen yang diresmikan oleh Bupati Kepulauan Sangihe.

Hanyutnya Oma Alpiah dalam kenangannya, terpencar dari raut wajah tuanya ketika menunjukan foto-foto kebersamaannya dengan keluarga Jendral Abdul Haris Nasution yang disebutnya begitu baik dan menganggapnya bagian dari keluarga, “Bahkan oma selalu dibawa-bawa kemanapun mereka pergi,” kenang Oma dalam penuturannya. 

Dirinyapun menceritakan dengan bangga kisah naik pesawat bersama keluarga A.H Nasution, hingga bertemu sesosok pria sederhana, yang baru diketahuinya sebagai Insinyur Soekarno, Sang Presiden RI pertama, hingga puncak pilunya ketika membawa Ade Irma yang telah tertembak, hingga wafat dalam dekapannya.

Adalah Alfian Walukow, pimpinan Sanggar Apapuhang Lenganeng yang memprakarsai pembuatan patung Ade Irma yang berdiri megah di pekarangan Oma Alpiah, didukung sejumlah pihak.

Bukan tanpa alasan. Baginya (Walukow, red) sekecil apapun peran Oma Alpiah dalam kisah pilu 1965 dalam ingatan masyarakat luas, tapi sudah sepantasnya Oma dikenang atas jasanya. 

“Apa yang oma perbuat, membuktikan bagaimana tau (Masyarakat) Sangihe punya cerita sebegitu genting dalam peristiwa tersebut. Meski hanya di belakang layar, tapi kita harus melihat betapa besar nilai keberanian dan pengorbanan Oma Alpiah,” ungkap Walukow ketika ditemui awak media.

Alfian Walukow, pimpinan Sanggar Apapuhang Lenganeng yang memprakarsai pembuatan patung Ade Irma Nasution bersama Oma Alpiah.

Oleh karna itu, meski harus melewati proses nan panjang, apresiasi kepada perempuan yang dianggapnya Pahlawan ini, harus terselesaikan agar dapat menjadi bukti sejarah yang seharusnya bisa menceritakan secara tidak langsung, betapa Oma Alpiah adalah sosok yang tidak bisa dilupakan generasi kedepan negeri Tampungang Lawo.

Apalagi, ketika kita bicara dedikasi dan kesetiaannya, hingga menjadi orang kepercayaan figur sebesar Jendral Nasution. “Itulah gambaran orang Sangihe yang sebenarnya, manusia dengan konsistensi dan dedikasi yang tinggi,” sebutnya.

Dirinya menuturkan, peresmian tersebut seyogianya merupakan satu dari tiga rencana yang diagendakan Sanggar Apapuhang.

Rencana pertama, yakni pembuatan buku tentang perjuangan oma yang sedianya sudah dibuat, kedua peresmian patung Ade Irma yang hari ini sudah terlaksana, dan selanjutnya kerinduannya untuk membawa Oma melihat secara langsung rumah bersejarah keluarga Nasution yang hari ini telah menjadi museum. 

“Namun, untuk rencana yang ketiga tersebut, kami masih mencari donatur untuk keberangkatan oma,” sebutnya lagi.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Kepulauan Sangihe Jabes Ezar Gaghanapun memberikan apresiasi atas agenda mengharukan yang boleh tercipta ini. 

“Kami hadir dan meresmikan patung ini, sebagai penghargaan kepada Oma Alpiah Makasebape, pengasuh Ade Irma yang menjadi saksi sejarah kelam bangsa Indonesia saat itu.

Menurut dia, sejarah merupakan pembuktian kebesaran sebuah bangsa, sehingga semua pihak sebagai bagian dari sejarah bangsa ini, tidak boleh lupa dengan kejadian yang terjadi. 

“Bukan hanya sebagai refleksi, tapi juga bagaimana kita menanggapi nilai-nilai yang ada dalam mengisi perjuangan para pahlawan yang telah wafat, dengan tindakan-tindakan positif bagi pembangunan bangsa,” sebut Bupati.

Dirinyapun mengapresiasi langkah yang dilakukan Sanggar Apapuhang Lenganeng, karna dengan memprakarsai pembangunan ini, masyarakat Sangihe dapat lebih mengenal kisah heroik anak rahim Tampungang Lawo, yang turut berjasa pada kisah pilu 1965.

“Terima kasih banyak untuk keluarga besar Sanggar Apapuhang dan tim yang terlibat didalamnya. Ini merupakan wujud pengabdian kepada bangsa, sehingga apa yang sudah Oma lakukan, dan yang hari ini direfleksikan oleh Sanggar Apapuhang, sudah sepantasnya ditiru oleh kita sekalian, bahkan anak-anak muda, terkait dengan kecintaan terhadap NKRI,” kuncinya.

(GR)

Ikuti Berita dan Informasi Terbaru dari Lintasutara.com di GOOGLE NEWS

Bagikan Artikel:

Artikel terkait

Terpopuler

BERITA TERKINI