Jelang Pilkada, Sangihe Ketambahan Puluhan Janda, Ini Penyebabnya

Sangihe, LintasUtara.com – Konstalasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Sulawesi Utara di tengah pandemi COVID-19, menjadi magnet isu yang hangat dan terus diperbincangkan seantero celebes ini.

Namun, tak kalah menariknya, selain isu Pilkada di tengah pandemi, isu perceraian punya magnet tersendiri.

Untuk perceraian akibat masalah ekonomi mendominasi di wilayah perbatasan Kabupaten Sangihe sejak awal Tahun 2020. 

Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan catatan Sipil (Dukcapil) Daerah Kepulauan Sangihe, kasus perceraian mencapai 37 kasus atau pasangan yang bercerai selang Januari hingga Juli 2020.

Kepala Seksi Perkawinan Perceraian dan Perubahan Status Anak Dinas Dukcapil Daerah Sangihe A. Pansing saat dikonfirmasi mengatakan, selain masalah perselingkuhan dan ketidakcocokan, masalah ekonomi juga mendominasi.

Dan angka perceraian mengalami trend penurunan dari tahun sebelumnya yang mencapai 69 kasus.

“Meski di suasana pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, angka perceraian tetap ada. Jumlah dari Januari- Juli 2020 sebanyak 37 akta cerai yang diterbitkan,” tuturnya.

Dibandingkan dengan tahun 2019 lanjut Pansing, ada sebanyak 69 kasus perceraian. Dan kalau dilihat ada penurunan, juga kalau membaca di putusan itu hanya masalah perselingkuhan sedangkan kekerasan tidak ada.

Selain itu ada masalah ekonomi atau mungkin masalah ketidakpuasan.

“Tidak bisa dipungkiri dampak Covid-19 mempengaruhi angka perceraian karena pemenuhan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Pengadilan Agama Tahuna Nur Amin mengatakan, perkara perceraian di Pengadilan Agama Tahuna ini sejak berlangsungnya pandemi COVID-19 meningkat 20 persen dibanding tahun lalu. 

“Sampai saat ini jumlah perkara yang masuk ada 63 perkara. Sementara tahun lalu hanya 58 perkara. Jadi tahun ini ada peningkatan,” bebernya.

Menurut Amin, yang mendominasi perceraian adalah permasalahan perekonomian dan ada juga perselingkuhan tapi tidak begitu banyak. 

“Kemungkinan kesulitan dalam mencari pekerjaan atau keuangan tidak mencukupi, maka itulah yang menjadi seteru dalam rumah tangga. Kalau perselingkuhan dan KDRT tidak begitu banyak,” kuncinya.

(TS)

Ikuti Berita dan Informasi Terbaru dari Lintasutara.com di GOOGLE NEWS

Bagikan Artikel:

Artikel terkait

Terpopuler

BERITA TERKINI