Sangihe, Lintasutara.com – Proses lelang kurang lebih 36 kg sarang burung walet gua Kalama masa panen ketiga dinyatakan gagal, setelah tak menemukan kesamaan titik harga dalam dua kali penawaran.
Lelang dibuka di ruang serba guna Kantor Bupati Kepulauan Sangihe, Senin (10/8/2026), dengan limit harga Rp6.500.000 per kg. Pun demikian, dalam penawaran pertama, 3 peserta lelang meminta penurunan harga jual.
Usai melakukan rapat singkat, Panitia bersama Perindag Sangihe menyepakati limit harga di angka Rp. 4.500.000 per kg untuk penawaran kedua, namun lagi-lagi belum mendapatan respon positif hingga lelang ditutup pukul 15.30 Wita.
Ditemui sejumlah wartawan usai proses lelang, Asisten II Setda Sangihe, Gregorius Londo menyebutkan memang ada permintaan penurunan harga dari peserta, di angka Rp. 3.000.000 saat pembukaan lelang.
“Namun ada beberapa pertimbangan, termasuk operasional dari kampung Kalama yang mengelola. Makanya kami sepakati harga Rp4.500.000, karena kalau sudah di bawah harga itu mereka tidak bisa pulang pokok,” terang Londo.
Dengan gagalnya proses lelang kali ini, Londo memastikan pihknya akan langsung berunding untuk menetapkan langkah selanjutnya, apalagi mengingat resiko penurunan kualitas barang.
“Mungkin 1–2 hari ke depan ini setelah kita coba berunding dengan panitia, kemudian kita menghitung kembali ini seperti apa. Nanti kita umumkan untuk lelang berikutnya,” lanjut Londo.
Meskipun demikian, ia menambahkan kalau ada pembeli yang bersedia secara langsung membeli sebesar harga limit Rp4,5 juta, item lelang tersebut bisa saja langsung dilepas.
​”Tetapi kalaupun sampai dengan 1 atau 2 hari ke depan ini belum ada, maka kita coba menghitung kembali dan kita buka lelang lagi,” kuncinya.
Adwin Pratama satu dari tiga peserta lelang mengaku sebenarnya berharap lelang beranjut, namun tidak bisa mengikuti limit harga dari panitia lelang.
Pasalnya, ia menyebut ada perbedaan kualitas dari panen pertama dan kedua. “Pertama kaki-kakinya itu sangat kotor, kemudian bulu yang melekat di dalam sarang walet tersebut itu banyak sekali. Jadi kami memutuskan tidak bisa ikut harga limit,” aku Adwin.
Di tempat sama, Kapitalaung Kalama Eksplandirks Kahimpong menyesalkan gagalnya lelang kali ini. Pun demikian, ia tetap berharap adanya harga terbaik.
Ia menghitung, jika penawaran berada dibawah Rp4 juta, maka pemasukan bagi pengelola sarang burung walet sangat kecil, termasuk masalah operasional pasca bagi hasil keuntungan 60:40 dengan Pemda Sangihe usai pemotongn pajak.
“Maka saya berharap kepada panitia yang ada di kabupaten, ketika dia laku di bawah dari Rp4 juta, ada langkah untuk mencukupi bagian kampung untuk biaya operasional. Sebab sekali lagi, kalau harganya demikian, jelas 60% untuk biaya operasional pelaksanaan panen tidak bisa mencukupi,” jelas Kapitalaung.
Ia menambahkan, kualitas produk kali ini juga sudah lebih baik karena ada proses pembersihan seusai panen di gua Kalama.
“Biasanya kami lakukan pembersihan di sini, baik kotoran hingga anakan, tapi panen ketiga tahun ini kami bersihkan dari kampung baru kami timbang untuk menjaga kualitas,” kuncinya.
