Sangihe, Lintasutara.com – Tugas mulai guru sebagai pendidik masa depan bangsa, tak bisa dipungkiri sering berhadapan dengan jalan terjal; tindakan kriminalisasi.
Mulai dari laporan kepihak aparat penegak hukum hingga cuitan media sosial, acap kali terlontar. Terlebih khusus, terkait tugas kecerdasan emosional anak didik.
Barangkali, masyarakatpun mulai terbiasa dengan tayangan, berita hingga status media sosial nan viral mengenai kejadian, dengan pro kontra tanggapan.
Beruntung, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Sangihe, Julien Manangkalangi menyebutkan hingga November 2025, tidak ada kejadian serupa terjadi di bumi Tampungang Lawo.
Perlindungan Bagi Guru dari Pusat ke Daerah
Untuk melindungi para guru dalam tugas pendidikan, pada tingkat pusat telah ditandatangani nota kesepahaman antara Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI dan Kepolisian RI, salah satunya terkait dengan restorative justice bagi guru yang terdampak masalah dengan murid, orang tua, bahkan lembaga swadaya masyarakat.
Bupati Kepulauan Sangihe, Michael menyampaikan apa yang sudah terputuskan di tingkat pusat akan pihaknya jalankan hingga ke daerah, begitu juga dengan aparat penegak hukum. Hal ini ia sampaikan seusai upacara peringatan HUT PGRI tahun 2025 di Lapangan Gelora Santiago, Selasa (25/11/2025).
“Saya percaya kita semua sudah mengamati dan mendapat instruksi mengenai hal ini. Untuk menjaga guru dari laporan – laporan tersebut, akan segera kita bahas bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah,” sebut Thungari
Iapun meminta kejadian – kejadian belakangan ini ramai di media sosial, tidak membuat guru – guru patah semangat dalam tugas mendidik anak – anak bangsa.
Iapun mengajak orang tua untuk memahami jika fungsi mendidik tidak bisa hanya diberatkan dipundak para guru.
“Mendidik anak, itu lebih banyak di rumah. Artinya, peran orang tua sangat signifikan untuk pembentukan karakter siswa dan guru menjadi tambahan untuk mendidik mereka di Sekolah,” tutur Thungari.
“Kesalahan anak – anak, tidak bisa menjadi tanggung jawab guru sepenuhnya, melainkan pada kita sebagai orang tua,” kuncinya.
