Dukung karya jurnalisme perbatasan Lintasutara.com
Lihat
LU TV

Regina Toasyana Sinedu: Suara Muda dari Perbatasan yang Menembus Dunia Diplomasi

Regina Toasyana Sinedu tumbuh dengan mimpi membawa nama Sangihe dikenal, bukan hanya sebagai daerah perbatasan, tetapi sebagai wilayah yang berdaya saing, berperan dalam percaturan diplomasi dan pembangunan berkelanjutan.

Terbit:

Tahuna, LintasUtara.com — Dari gugusan pulau paling utara Indonesia, lahir sosok muda yang membawa semangat baru bagi Sangihe. Namanya Regina Toasyana Sinedu, putri daerah yang menempuh jalan intelektual melalui studi Hubungan Internasional di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga.

Regina tumbuh dengan mimpi sederhana: ingin membawa nama Sangihe dikenal, bukan hanya sebagai daerah perbatasan, tetapi sebagai wilayah yang berdaya saing dan memiliki peran dalam percaturan diplomasi dan pembangunan berkelanjutan.

Mimpi itu ia wujudkan melalui kerja nyata — dari riset, organisasi, hingga komunitas kreatif yang ia bangun sendiri.

Lulusan dengan predikat terbaik Model United Nations 2023 ini dikenal aktif dan visioner. Ia pernah menjalani magang di Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) Kabupaten Kepulauan Sangihe, tempat ia mengenal langsung kompleksitas tata kelola wilayah perbatasan.

Tak berhenti di situ, Regina juga berpengalaman sebagai peneliti magang di Pusat Studi Agama, Pluralisme, dan Demokrasi (PusAPDem) UKSW, sebuah pengalaman yang memperkuat pandangannya tentang pentingnya toleransi dan dialog lintas identitas.

Baca Juga:

Kini, Regina menjabat sebagai Manajer di KASIKA Creative Enterprise, wadah bagi ide-ide muda Sangihe di bidang kreatif dan sosial. Ia juga aktif dalam organisasi kepemudaan nasional, di antaranya Indonesian Youth Diplomacy (IYD) Chapter Sulawesi Utara serta Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Sangihe, di mana ia dipercaya sebagai Kepala Divisi SDM dan Organisasi untuk periode 2025–2027.

Selain aktivitas organisasional, Regina adalah penggagas project “mangarene.”, ruang kreatif yang menjadi tempat berbagi ide, budaya, dan semangat antara anak muda Sangihe.

Melalui “mangarene.”, ia berharap generasi muda di daerah kepulauan dapat melihat potensi lokal sebagai kekuatan yang dapat berbicara di tingkat nasional bahkan internasional.

Dengan kemampuan berbahasa Indonesia, Inggris, dan Prancis, Regina menunjukkan bahwa anak muda dari pulau terluar pun bisa bersuara global.

“Saya ingin anak-anak Sangihe tahu bahwa mereka tidak kalah. Kita bisa menjadi bagian dari dunia tanpa harus meninggalkan akar kita,” ujarnya dalam sebuah perbincangan singkat dengan LintasUtara.com.

Sosok Regina menjadi cerminan generasi baru Sangihe — cerdas, berani, dan penuh kepedulian.

Di tengah keterbatasan daerah perbatasan, ia membawa pesan sederhana namun kuat: bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari pulau kecil, dari mereka yang percaya pada makna perjuangan dan cinta terhadap tanah kelahiran.

Penulis: Paulus Theodorus Serang

Bagikan:

Artikel terkait

Advertisement

Terpopuler

Nusa Utara dalam Pusaran RTRW Sulut: Provinsi Baru atau Ilusi yang...

Suara Sangihe

Bupati Sitaro Chyntia Kalangit Kembali Diperiksa Kejati Sulut

Daerah

Kasus Dana Bencana Gunung Ruang Sitaro, Kajati Sulut: Saya Pastikan Ada...

Daerah

Mahasiswi Polnustar Jadi Korban Banjir Bandang Siau, Kampus Berduka dan Kehilangan

Sitaro

Bupati Sitaro Penuhi Pemeriksaan Lanjutan di Kejati sebagai Saksi Kasus DSP...

Sitaro

Terkini