Kompetensi Komunikasi Berbudaya Dorong Penguatan Pembelajaran Bahasa Inggris di SMA Advent Tanah Putih

Pembelajaran Bahasa Inggris tidak hanya tentang kemampuan menggunakan bahasa, tetapi juga tentang bagaimana siswa memahami dunia di sekitarnya.

Terbit:

Lintasutara.com – Bahasa Inggris di ruang kelas buka lagi sebatas tata bahasa, kosakata, dan percakapan. Di tengah perjumpaan berbagai latar budaya, kemampuan berbahasa juga berkaitan dengan cara siswa memahami perbedaan, melihat perspektif lain, dan membangun dialog.

Hal tersebut dibahas dalam Workshop Peningkatan Kapasitas Guru Bahasa Inggris berbasis Kompetensi Komunikasi Berbudaya yang digelar di SMA Advent Tanah Putih, Likupang Barat, Minahasa Utara, pada 28 Juli 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Manado (Unima). Dosen Unima, Dr. Deisyi A. Batunan, menjadi fasilitator dalam workshop yang diikuti para guru Bahasa Inggris SMA Advent Tanah Putih.

Workshop berangkat dari hasil observasi awal dan kajian literatur yang menunjukkan pemahaman guru mengenai Kompetensi Komunikasi Berbudaya masih belum menyeluruh. Karena itu, pembahasan tidak berhenti pada konsep, tetapi diarahkan pada cara menerapkannya dalam pembelajaran Bahasa Inggris.

Baca Juga:

Materi dimulai dengan pembahasan mengenai berbagai tantangan abad ke-21 dan implikasinya bagi pendidikan. Para peserta mendiskusikan isu lingkungan, ketimpangan sosial, kesehatan, kemiskinan, perdamaian, pendidikan, dan keberlanjutan.

Isu-isu itu kemudian dikaitkan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai konteks yang dapat digunakan dalam pembelajaran. Bahasa Inggris ditempatkan bukan hanya sebagai materi yang harus dikuasai, tetapi juga sebagai alat untuk memahami persoalan, bertukar gagasan, dan berinteraksi dengan perspektif yang berbeda.

Workshop diawali dengan ice-breaking menggunakan Total Physical Response (TPR) Activity. Peserta merespons sejumlah pernyataan mengenai pengalaman dan praktik mengajar melalui gerakan sederhana.

Aktivitas tersebut menjadi pintu masuk untuk menyadari bahwa setiap guru memiliki pengalaman, keyakinan, dan praktik pembelajaran yang berbeda.

“Kesadaran terhadap pengalaman dan perspektif diri menjadi penting sebelum guru diajak untuk memahami perspektif peserta didik dan orang lain yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda,” kata Dr. Deisyi, Senin (28/09/2026).

Pembahasan inti kemudian beralih pada Intercultural Communicative Competence (ICC) yang dikembangkan Michael Byram pada 1997. Konsep ini mencakup lima dimensi, yakni pengetahuan, sikap, keterampilan menafsirkan dan menghubungkan, keterampilan menemukan dan berinteraksi, serta kesadaran budaya kritis.

Kelima dimensi itu kemudian dihubungkan dengan praktik pembelajaran melalui Problem-Based Learning, Project-Based Learning, Case-Based Learning, dan Inquiry-Based Learning.

Dr. Deisyi Batunan menjelaskan sejumlah aktivitas yang dapat digunakan untuk mengembangkan kompetensi tersebut, antara lain joint meeting presentation, storytelling performance, poster campaign, dan guest talk series yang melibatkan guru dan siswa dari berbagai negara.

Dalam poster campaign, siswa dapat mengidentifikasi persoalan lingkungan di sekitar mereka. Persoalan itu kemudian dibandingkan dengan cara pandang dari konteks budaya lain sebelum siswa menyusun pesan kampanye dalam Bahasa Inggris.

Adapun melalui joint meeting presentation, siswa dapat bertukar informasi dan perspektif dengan kelompok lain. Mereka tidak hanya menggunakan Bahasa Inggris untuk menyampaikan informasi, tetapi juga belajar memahami dan menegosiasikan perbedaan pandangan.

Deisyi Batunan kompetensi komunikasi berbudaya
Dosen Unima, Dr. Deisyi A. Batunan, sebagai fasilitator dalam kegiatan Workshop Peningkatan Kapasitas Guru Bahasa Inggris SMA Advent Tanah Putih terhadap Pembelajaran Berbasis Konstruk Kompetensi Komunikasi Berbudaya. Foto: ist

Setelah membahas konsep dan contoh penerapannya, para guru dilatih untuk menyusun lesson plan berbasis Kompetensi Komunikasi Berbudaya. Mereka menghubungkan tujuan pembelajaran dengan isu yang dekat dengan kehidupan siswa, menentukan aktivitas dan strategi pembelajaran, serta merancang asesmen.

“Tahap ini menjadi bagian penting karena pengetahuan yang diperoleh selama workshop diterjemahkan menjadi rancangan pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas,” jelas Dr. Deisyi.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan refleksi menggunakan sticky notes. Para peserta menjawab tiga pertanyaan mengenai hal yang menyentuh mereka, perubahan cara pandang yang muncul, serta hal yang akan dilakukan secara berbeda setelah mengikuti workshop.

Refleksi itu mengembalikan pembahasan pada gagasan utama kegiatan: pembelajaran Bahasa Inggris tidak hanya tentang kemampuan menggunakan bahasa, tetapi juga tentang bagaimana siswa memahami dunia di sekitarnya.

Kompetensi Komunikasi Berbudaya tidak sekadar menambahkan materi budaya dalam pelajaran Bahasa Inggris. Pendekatan ini mendorong siswa untuk memahami perbedaan, berdialog dengan perspektif yang beragam, mengembangkan kesadaran kritis, dan menggunakan kemampuan komunikasi untuk merespons persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka. (***/Red)

Bagikan:

Artikel terkait

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Advertisement

Terpopuler

Ini Hasil Lomba Paduan Suara FSBDG Pelka Bapak Sinode GMIST 2026

Sangihe

9 Tim Paduan Suara Siap Berlaga di FSBDG Pelka Bapak GMIST...

Sangihe

PMI Sulut Distribusikan 250 Ribu Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak...

Manado

Putusan PN, PT hingga MA Sudah Inkracht, Kuasa Hukum Ahli Waris:...

Talaud

2 Sekolah Jadi Pilot Project, Dikbud Sangihe Pacu Transformasi Pendidikan Berbasis...

Sangihe

Terkini