Dukung karya jurnalisme perbatasan Lintasutara.com
Lihat
LU TV

Lebih dari Kunjungan Menteri: Membaca Arah Pembangunan Sitaro

Terbit:

Sitaro, Lintasutara. com – Keberhasilan menghadirkan pejabat tinggi negara ke daerah terpencil kerap dipandang sebagai capaian seremonial belaka dan sekadar panggung politik yang cepat berlalu.

Namun, dalam konteks Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), peristiwa ini layak dibaca lebih dalam.

Langkah Bupati Kepulauan Sitaro, Chyntia I. Kalangit dan Wakil Bupati, Heronimus Makainas yang mampu menghadirkan Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait serta Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) RI, Amalia Adininggar Widyasanti justru menunjukkan praktik politik pembangunan yang tidak berhenti pada simbol, melainkan bergerak menuju hasil konkret.

Selama ini, daerah kepulauan seperti Sitaro bergulat dengan problem struktural yang berulang yakni keterisolasian geografis, tingginya biaya logistik, serta ketergantungan yang kuat pada kebijakan pusat.

Dalam lanskap seperti itu, kemampuan pemerintah daerah membangun komunikasi vertikal bukan lagi sekadar keunggulan tambahan, melainkan prasyarat utama.

Baca Juga:

Sitaro tampaknya memahami logika ini. Kunjungan para pejabat tinggi tidak berdiri sebagai seremoni kosong, tetapi menjadi instrumen untuk membuka akses terhadap intervensi kebijakan yang lebih substantif.

Komitmen bantuan 1.000 unit rumah melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) menjadi bukti paling konkret.

Bagi wilayah kepulauan dengan keterbatasan lahan layak bangun dan kerentanan terhadap bencana, angka tersebut bukan sekadar statistik. Ia merepresentasikan peluang nyata untuk mengurangi backlog perumahan sekaligus meningkatkan kualitas hunian masyarakat berpenghasilan rendah. Dalam jangka panjang, intervensi ini bahkan dapat memperkuat ketahanan sosial masyarakat terhadap risiko lingkungan.

Namun demikian, capaian ini tidak boleh berhenti pada euforia awal. Justru di titik inilah ujian sesungguhnya dimulai.

Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa banyak program pusat kehilangan efektivitasnya ketika berhadapan dengan lemahnya tata kelola lokal.

Persoalan klasik seperti validasi data penerima, transparansi distribusi bantuan, hingga pengawasan kualitas pembangunan kerap menjadi titik rawan.

Pemerintah daerah Sitaro kini dituntut memastikan bahwa program tersebut berjalan tepat sasaran, tepat mutu, dan tepat waktu yang mana ini bukan sekadar terealisasi di atas kertas.

Kehadiran Kepala BPS dalam kunjungan tersebut juga seharusnya tidak dipahami secara sempit. Data yang akurat adalah fondasi dari kebijakan yang efektif.

Momentum ini semestinya dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas basis data daerah, terutama terkait kemiskinan, kondisi perumahan, dan dinamika sosial ekonomi.

Tanpa data yang presisi, pembangunan akan terus berisiko berjalan dalam ruang asumsi, bukan kebutuhan riil masyarakat.Di sisi lain, dimensi politik dari capaian ini tidak bisa diabaikan.

Era desentralisasi menempatkan kepala daerah bukan hanya sebagai administrator, tetapi juga sebagai perantara strategis antara kepentingan lokal dan agenda nasional. Dalam hal ini, kepemimpinan di Sitaro menunjukkan kapasitas sebagai “broker kebijakan”.

Artinya dalam kepemimpinan di era Kalangit-Makainas keduanya proaktif dalam meneglolah pemerintahan, mereka idak sekadar menunggu alokasi, tetapi mampu menarik perhatian dan sumber daya dari pusat.Meski demikian, pembangunan tidak boleh terjebak dalam pola acara seremonial dan paket bantuan jangka pendek.

Tantangan Sitaro yang jauh melampaui isu perumahan diantaranya penguatan ekonomi lokal, peningkatan konektivitas antar-pulau, serta mitigasi risiko bencana.

Semuanya ini membutuhkan pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan dan dengan adanya program perumahan semestinya menjadi pintu masuk bagi bantuan-bantuan pusat lainnya. Pada akhirnya, capaian ini patut diapresiasi sebagai langkah awal yang menjanjikan.

Namun publik berhak menuntut lebih dari sekadar hasil instan. Transparansi, akuntabilitas, dan konsistensi kebijakan adalah ukuran sesungguhnya dari keberhasilan pembangunan.

Sebab bagi daerah kepulauan seperti Sitaro, yang dibutuhkan bukan hanya perhatian sesaat dari pusat, melainkan kesinambungan kerja yang terukur dari pemerintah daerah itu sendiri.

Bagikan:

Artikel terkait

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Advertisement

Terpopuler

Kejari Sangihe Naikkan Status! Dugaan Korupsi Dana CSR Bank SulutGo 2023...

Sangihe

Olga Makasidamo Diperiksa Kejari, Penyidikan Kasus CSR Bank SulutGo Kian Menggigit

Sangihe

Giliran Dokta Pangandaheng Diperiksa, Kasus CSR Bank SulutGo 2023 Memanas

Sangihe

Status Burung di Indonesia 2026: Dinamika Perubahan Spesies Burung

Lingkungan

Pemkab Sitaro Luruskan Informasi DTH bagi Penyintas Gunung Ruang

Sitaro

Terkini