Jacky Undeng, selaku Assisten Manajer Jaringan dan Konstruksi PT. PLN UP3 Tahuna menyatakan jika seyogianya, saat ini Sangihe sudah memiliki daya mampu sebanyak 9,8 Mega Watt (MW).
“Setelah mesin pembangkit Lesabe beroperasi dan beberapa mesin lain selesai perbaikannya, daya mampu kita memang meningkat jadi 9,8 MW, lebih dari beban rata – rata sistem Sangihe, pada angka 9,2 MW,” terang Jacky.
Untuk beban puncak di sistem Sangihe sendiri, memang tercatat pada 31 Desember 2025 lalu dengan angka 9,7 MW. Namun, untuk kondisi normal; semisal tanpa adanya event dan momentum khusus lain, biasanya hanya ada pada angka 8,8 MW.
“Makanya beberapa waktu terakhir setelah ada tambahan mesin di Lesabe dan perbaikan mesin lainnya, sudah tidak ada lagi pemadaman bergilir,” lanjutnya.
Back Up Daya
Pun demikian, ketambahan 5 mesin pembangkit dengan daya total 4000 kW dan atau 4 MW ini, bagi Jacky tetap menjadi angin segar.
Pasalnya, jika saat ini sudah apa surplus daya kurang lebih 600 kW dari beban rata – rata, maka bakal ada lonjakan daya mampu lagi menjadi 13.800 kW dan atau 13,8 MW.
“Kondisi surplus ini bagi PLN, untuk setiap sistem supaya tetap andal, amannya ada di N – 2. Artinya, jika ada dua unit mesin dengan kapasitas daya pasok terbesar kami mengalami kendala, maka masih ada mesin standby untuk back up,” bebernya.
Saat ini lanjut Jacky, mesin dengan daya pasok terbesar di Sangihe sendiri berada pada angka 1.000 kW dan atau 1 MW. Sehingga, jikapun ada dua mesin mengalami masalah semisal masuk masa pemeliharaan ataupun gangguan tak terduga, maka ada back up daya 4 MW dari kelima mesin baru yang stand by.
“Jadi nanti akan ada pola operasi untuk mengatur sistem, karena memang tidak mungkin juga kita operasikan terus semua mesin dengan daya mampu 13,8 MW, untuk beban sistem Sangihe sebesar 9,2 MW. Tetap akan kita atur untuk menjaga keandalan listrik di Sangihe lewat pengatur sistem,” kuncinya.
