Di Kabupaten Kepulauan Sangihe, pers bekerja dengan cara yang berbeda. Ia tak selalu hadir dengan gedung besar, jaringan kuat, atau akses cepat.
Sering kali ia lahir dari sinyal yang putus-sambung, kapal yang menantang ombak, dan keyakinan bahwa kabar dari pulau kecil tetap layak didengar oleh republik.
Hari Pers Nasional di Sangihe bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah momen menoleh ke cermin—tentang bagaimana pers menjaga denyut demokrasi di wilayah perbatasan, tempat negara kerap hadir lebih lambat dari berita.
Di daerah yang berbatas langsung dengan Filipina ini, pers memikul tugas berlapis. Bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi menegaskan keberadaan negara, menjaga ingatan kolektif, dan menyuarakan kehidupan warga yang sering luput dari pusat perhatian.
Pers Sangihe tumbuh dari realitas yang keras: akses terbatas, tekanan ekonomi media, hingga godaan kompromi pada integritas.
Namun justru dari keterbatasan itu lahir jurnalisme yang dekat— mengenal nama nelayan, hafal cerita pulau kecil, dan peka terhadap suara warga yang tak punya mikrofon.
Di sini, berita bukan sekadar peristiwa. Ia adalah kesaksian—tentang jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki, tentang sekolah di pulau terluar, tentang nelayan yang berhadapan dengan batas negara, dan tentang harapan sederhana agar didengar.
Hari Pers Nasional menjadi pengingat bahwa kemerdekaan pers di perbatasan bukan hadiah, melainkan perjuangan harian. Perjuangan menjaga independensi di tengah relasi kuasa yang sempit.
Perjuangan bertahan hidup di tengah arus digital yang tak selalu ramah pada media lokal. Dan perjuangan tetap berpihak pada kepentingan publik, meski godaan untuk diam selalu ada.
Di Sangihe, pers adalah penjaga api kecil di ujung negeri.
Api yang mungkin tak besar, tapi cukup untuk menerangi.
Cukup untuk memberi tanda bahwa di sini ada kehidupan, ada warga negara, dan ada cerita yang layak dicatat sejarah.
Selamat Hari Pers Nasional.
Dari tanah perbatasan, pers terus bekerja—
menjaga kebenaran, merawat nurani, dan memastikan Sangihe tetap terdengar dalam percakapan bangsa.
