Dukung karya jurnalisme perbatasan Lintasutara.com
Lihat
LU TV

Tulude Digelar Sederhana, Sitaro Rawat Tradisi di Tengah Duka Pasca Bencana

Terbit:

Sitaro, Lintasutara.com – Di tengah suasana duka yang belum sepenuhnya reda akibat bencana alam yang terjadi pada awal tahun, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) memilih satu sikap: tradisi tidak boleh padam. Namun perayaan kali ini tak dibuat meriah. Gelar Adat Tulude tetap digelar, tetapi dengan cara yang lebih hening

Kegiatan ini juga disatukan dengan syukur satu tahun kepemimpinan Bupati Chyntia Ingrid Kalangit dan Wakil Bupati Heronimus Makainas, pada Februari 2026.

Bagi pemerintah daerah, keputusan itu bukan semata soal efisiensi agenda. Ada pertimbangan suasana batin masyarakat yang masih berduka. Perayaan dibuat sederhana, tanpa gemerlap, agar selaras dengan kondisi sosial warga. Meski demikian, makna adat dipastikan tak berkurang.

Tulude, tradisi tahunan masyarakat Nusa Utara yang sarat doa dan ungkapan syukur, dipandang sebagai jangkar identitas kultural. Dalam situasi sulit, justru nilai-nilai itulah yang ingin diteguhkan.

Baca Juga:

Sekretaris Daerah Sitaro, Denny Kondoj, menegaskan, esensi Tulude bukan terletak pada kemeriahan, melainkan pada makna spiritualnya. Hal itu ia sampaikan dalam rapat bersama kepala perangkat daerah di Media Center Pemkab Sitaro, Selasa, 3 Februari.

“Gelar Adat Tulude bukan sekadar seremoni, tetapi momentum spiritual dan budaya untuk bersyukur kepada Tuhan serta mempererat kebersamaan masyarakat. Karena itu, meski dilaksanakan secara sederhana, maknanya tetap utuh,” ujar Kondoj.

Menurut dia, penggabungan dengan perayaan satu tahun kepemimpinan kepala daerah juga dimaksudkan sebagai ruang refleksi. Pemerintah ingin menjadikan momen tersebut sebagai jeda untuk menilai perjalanan setahun terakhir sekaligus meneguhkan tekad menghadapi tantangan pascabencana.

“Lewat perayaan ini, kita ingin saling menguatkan dan mendoakan agar Kabupaten Sitaro terus bangkit, bertumbuh, dan berkembang demi kesejahteraan masyarakat,” kata Kondoj kembali.

Di tengah keterbatasan, Tulude 2026 diharapkan menjadi lebih dari sekadar ritual tahunan. Ia diposisikan sebagai simbol ketahanan sosial, tanda bahwa masyarakat kepulauan itu masih berdiri, masih bersama, dan masih percaya pada masa depan. Tradisi, kali ini, menjadi cara Sitaro merawat harapan.

Bagikan:

Artikel terkait

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Advertisement

Terpopuler

Duo Dalughu Taklukan Jalur Speed WR, Sabet Emas ke- 2 untuk...

Olahraga

Menjawab Krisis Tenaga Medis, Bupati Sitaro Tempuh Jalur Kemenkes

Sitaro

Daftar Lengkap 16 Pejabat yang Dilantik Bupati Michael Thungari

Sangihe

108 Warga Siau Timur Mengungsi dengan Pakaian di Badan

Sitaro

Ristam Pakaya Siap Dukung dan Hadiri Muswil PKB Sulut di Manado

Sangihe

Terkini