Tahun baru selalu datang dengan dua wajah: harapan dan kewaspadaan. Di Kabupaten Kepulauan Sangihe, 2026 bukan sekadar pergantian angka kalender, tetapi babak awal dari pertaruhan lama—antara pertumbuhan dan keadilan, antara statistik dan kenyataan hidup warga di pulau-pulau.
Secara ekonomi, Sangihe masih bertumpu pada sektor primer: perikanan, pertanian, dan perkebunan. Potensinya besar, namun nilai tambahnya masih kecil. Nelayan tetap menjual hasil tangkapan mentah, petani masih bergantung pada cuaca dan pasar yang tak berpihak, sementara rantai distribusi panjang membuat harga di tingkat konsumen melambung. Tantangan 2026 ada pada keberanian pemerintah daerah mendorong hilirisasi skala lokal—bukan jargon besar, tapi langkah nyata: cold storage yang berfungsi, akses modal yang masuk akal, serta pasar yang pasti bagi produk warga.
Di sisi lain, peluang ekonomi Sangihe terletak pada posisinya sebagai wilayah perbatasan. Jika dikelola dengan visi, perbatasan bukan halaman belakang negara, melainkan beranda. Perdagangan lintas batas, pariwisata bahari, hingga ekonomi kreatif berbasis budaya lokal dapat menjadi mesin baru pertumbuhan. Namun syaratnya jelas: infrastruktur dasar harus lebih dulu hadir dan bekerja— listrik, transportasi laut, pelabuhan yang hidup, dan konektivitas digital yang merata.
Secara sosial, 2026 juga menyimpan pekerjaan rumah besar. Ketimpangan antarwilayah, isu kemiskinan, serta akses pendidikan dan kesehatan di pulau-pulau terluar masih menjadi cerita berulang. Di tengah geliat pembangunan, ada warga yang belum benar-benar merasakan negara. Tahun baru seharusnya menjadi momentum menggeser fokus: dari sekadar membangun fisik menuju membangun manusia Sangihe—guru yang betah mengajar di pulau, tenaga kesehatan yang terlindungi, dan anak muda yang punya alasan untuk pulang, bukan pergi.
Tantangan terbesar Sangihe di 2026 mungkin bukan kekurangan potensi, melainkan konsistensi arah. Apakah kebijakan benar-benar berpihak pada kebutuhan warga ? Apakah partisipasi publik hanya formalitas, atau sungguh menjadi ruang bersama untuk menentukan masa depan daerah?
Langkah awal di tahun baru ini menuntut lebih dari optimisme. Ia menuntut keberanian memilih prioritas dan kejujuran membaca kenyataan. Sangihe tidak kekurangan harapan. Yang sering kurang hanyalah keberlanjutan dan keberpihakan.
Di 2026, Suara Sangihe mencatat dan mengingatkan: pembangunan sejati bukan tentang seberapa cepat angka naik, tetapi seberapa banyak warga yang ikut melangkah maju.
