Manado, Lintasutara.com – Sepasang sepatu usang yang tampak lebih cocok menghuni sudut gudang ketimbang arena lomba, justru menjadi saksi lahirnya sejarah baru di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Utara 2025.
Tergerus waktu, berlubang di sana-sini, namun tetap menapak kokoh di dinding panjat. Dari alas kaki sederhana itu, atlet panjat tebing Kabupaten Kepulauan Sitaro membuktikan bahwa semangat bisa jauh lebih tajam dari perlengkapan.
Cabang panjat tebing tampil sebagai juara umum dan penyumbang medali terbanyak bagi Kabupaten Kepulauan Sitaro, dengan raihan 6 emas, 5 perak, dan 1 perunggu.
“Hampir semua sepatu atlet dalam kondisi berlubang dan sebenarnya sudah tidak layak digunakan saat kompetisi,” ungkap Ketua Umum FPTI Sitaro, James Tamo, Selasa (25/11), di Manado.
“Namun dengan keterbatasan itu tak membuat para atlit mundur. Anak-anak tetap memanjat, tetap mengejar waktu, dan tetap menang. Dari sepatu lama itu, mereka membawa pulang prestasi.” lanjut Tamo.
Ia menyebut, keterbatasan peralatan bukan hal baru bagi tim panjat tebing Sitaro. Sejak beberapa kejuaraan sebelumnya, mereka sudah tampil dengan kondisi perlengkapan seperti ini.
“Namun semangat tidak pernah turun, bahkan justru meningkat,” katanya.
Salah satu penyumbang medali emas, Chritiani Alfa Mumu, yang membawa pulang dua emas dan satu perak, menegaskan bahwa perjuangan mereka tumbuh dari keterbatasan.
“Sepatu ini sudah saya pakai cukup lama, dan sekarang makin banyak bolongnya. Tapi kami percaya, yang menentukan bukan sepatunya, tapi keberanian saat berada di atas dinding.” ujar Siswi SMP Negeri 1 Siau Timur, sambil tersenyum.
Senada, atlet muda Aprilia Dalughu — peraih emas di Speed WR Beregu Campuran dan Boulder Beregu Putri menyebut kemenangan ini adalah bukti bahwa mimpi tidak pernah bergantung pada fasilitas.
“Kami tidak punya perlengkapan terbaik, tapi kami punya tekad yang tidak bisa dilubangi seperti sepatu kami,” ujarnya.
Kemenangan ini menjadi simbol bahwa mimpi tak membutuhkan fasilitas mewah untuk tumbuh, serta menjadi pesan penting bagi pemerintah daerah agar segera memberikan dukungan dan perbaikan sarana olahraga.
Sitaro mungkin datang dengan sepatu rapuh yang seharusnya pensiun dari tiap kompetisi, namun itu tak meruntuhkan semangat untuk menembus batas.
