Sangihe, Lintasutara.com – Kampung Laine, Kecamatan Manganitu Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, kembali dilanda banjir, Jumat (21/02/2025).
Fenomena ini bukanlah kejadian baru bagi masyarakat setempat, melainkan bencana yang datang berulang setiap tahun.
Begitu sering terjadi, peristiwa ini seakan kehilangan daya tarik pemberitaan. Namun, di balik kejenuhan informasi, ada penderitaan warga yang tak pernah pudar.
Setiap tahun, warga Kampung Laine harus menghadapi musibah ini dengan pasrah. Air bah yang meluap menggenangi rumah-rumah mereka, merusak fasilitas umum, dan mengancam keselamatan jiwa. Harta benda terendam, aktivitas terganggu, dan kehidupan pun seolah harus diulang dari titik nol setelah setiap banjir surut.
Mengapa Banjir Selalu Terjadi?
Kampung Laine memiliki topografi yang rentan terhadap banjir. Curah hujan tinggi yang melanda wilayah ini, ditambah dengan buruknya sistem drainase dan penggundulan hutan di daerah hulu, memperparah risiko bencana. Air yang seharusnya terserap oleh tanah dengan baik malah mengalir deras ke permukiman warga. Selain itu, adanya aktivitas penambangan emas di daerah hulu telah menyebabkan pendangkalan aliran sungai akibat sedimentasi, yang semakin memperparah risiko banjir.
Adakah Solusi Nyata?
Pertanyaannya, apakah tidak ada jalan keluar bagi masyarakat Kampung Laine untuk terbebas dari siklus penderitaan ini? Penanganan pasca-bencana selama ini memang diperlukan, tetapi solusi jangka panjang menjadi hal yang lebih mendesak. Langkah-langkah konkret yang bisa dilakukan mencakup:
Rehabilitasi Lingkungan: Penghijauan kembali daerah hulu dan perbaikan tata guna lahan bisa membantu mengurangi risiko banjir.
Pembangunan Infrastruktur : Pembangunan tanggul sepanjang daerah aliran sungai dan pengerukan sungai yang telah dangkal akibat sedimentasi.
Pengawasan dan Regulasi Penambangan: Pemerintah harus mengawasi serta menertibkan aktivitas penambangan emas yang menyebabkan sedimentasi di sungai.
Relokasi Warga yang Berada di Zona Rawan: Pemerintah perlu mempertimbangkan relokasi bagi warga yang tinggal di daerah paling berisiko.
Edukasi dan Kesiapsiagaan Bencana: Masyarakat perlu dibekali dengan pengetahuan dan pelatihan untuk menghadapi banjir secara lebih terstruktur.
Kolaborasi Antar Pihak: Pemerintah, akademisi, aktivis lingkungan, dan masyarakat harus bekerja sama untuk menemukan solusi berkelanjutan.
Banjir tahunan di Kampung Laine bukanlah takdir yang tak bisa diubah. Dengan kebijakan yang tepat dan kepedulian dari semua pihak, penderitaan warga bisa dikurangi, bahkan dihentikan. Sudah waktunya untuk bertindak, bukan sekadar merespons setelah bencana terjadi.
Semoga ke depan ada langkah nyata yang dapat benar-benar membebaskan masyarakat Kampung Laine dari ancaman banjir yang terus menghantui mereka.
(Penulis / Editor : Theodorus)
