Kemarin sore ngopi di salah satu cafe dibilangan jalan Boulevard Kota Manado. Cafe dengan konsep milenial ini pengunjungnya cukup ramai didominasi gen milenial.
Saya ditemani kawan, Andra Medawo salah satu pemuda terbaik dari Sangihe, Kampung Mandoi Kecamatan Tabukan Selatan, Ketua Ikatan Pemuda Nusa Utara yang satu dekade terakhir mampu menembus balada program Kementerian Luar Negeri, Paman Sam.
Banyak hal kami bahas dalam diskusi mulai dari yang serius tentang kondisi politik nasional, korelasinya ke daerah dan dampaknya untuk Sulawesi Utara lebih khusus Nusa Utara dan lingkup paling kecil Sangihe, hingga bahasan ngalur ngidul tentang politisi lawak dan tak keginggalan problem PLN SultengGo sangat rumit. Kami melupan hasil pilkada dengan dinamika yang menyertainya.
Saat kami sedang membahas isu, Upah Mininum Provinsi (UMP) Sulut 2025 mendatang, naik menjadi 3,7 juta. Tiba- tiba meja kami disambangi seorang gadis (paras Manado) langsung memberi salam mengawali percakapan. “Selamat malam kak” ujarnya penuh santun. Selamat malam, sahut kami.
Gadis inipun menyampaikan tujuanya, menawarkan produk parfum, ternyata dia sales dari salah satu merk parfum lokal yang dipasarkan secara konvensional mengandalkan kecakapan komunikasi dari marketingnya menggaet pelanggan seakan bertanding melawan gempuran marketing digitalisasi.
Menyimak dari cara dan gestur gadis ini berkomunikasi menawarkan produk dapat dipastikan ilmu marketingnya cukup mumpuni dan khatam dari sisi teknis.

Saya menyempatkan diri bertanya, kenapa memilih menjadi sales parfum dan bagaimana salary yang ia terima?. ” susah cari kerja laeng, torang dibayar persen dari yang ta jual,” jawabnya dengan dialeg Manado kental. “Torang tiap hari target minimal 3 botol torang pe komisi 30 persen,” sambungnya sambil mengatakan jumlah mereka cukup banyak tersebar di tempat keramaian di Kota Manado.
Ungkapan gadis tersebut, ‘susah cari kerja’ ditengah naiknya UMP Sulut tahun 2025 mendatang, sedikit menggelitik rasa ingin tahu saya terhadap angka kerja setiap tahun dan jumlah pengangguran di Sulut.
Dari data BPS yang saya ulik, Jumlah angkatan kerja Sulawesi Utara berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Agustus 2024 sebanyak 1,39 juta orang, naik 54,87 ribu orang dibanding Agustus 2023. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) naik sebesar 1,98 persen poin dibanding Agustus 2023. (Lihat grafik).
Dalam benak saya bergumam, apakah menurunya, tingkat pengangguran terbuka (TPT) disumbang oleh mereka yang masuk kategori pekerja tidak penuh, setengah pengangguran atau paruh waktu dengan penghasilan yang tidak menentu seperti gadis ini? Mungkin.
Perlu ada revisi keberpihakan kepada ‘keringat’ mereka yang bekerja sangat keras tapi denga penghasilan tak menentu bahkan tak menghasilkan.
Juga kepekaan para pemimpin yang menobatkan diri sebagai penguasa agar melihat tidak saja dengan mata tetapi juga dengan hati bagaimana mempersiapkan program peningkatan kapasitas SDM sehingga bonus demografi yang kita nikmati bukan tentang angka (usia) tetapi ide dan gagasan serta kualitas tenaga kerja menuju Indonesia emas 2045.

