Perhelatan Pilkada serentak sudah di depan mata membuat suhu politik di daerah mulai menghangat. Di Kabupaten Kepulauan Sangihe konstalasi menuju kontestasi lima tahunan ini pun kian menggeliat.
Partai- partai yang memperoleh ‘tiket’ mengusung calon hasil perolehan suara Pileg lalu, mulai kelihatan genit menjaring figur yang layak dijual untuk menarik simpati rakyat. Figur- figur peraih suara signifikan di Pileg lalu masuk radar dan lirikan, baik kader maupun sosok di luar kader partai.
Tak disangka, persoalan baru muncul menerpa politisi dan kader partai peraih suara signifikan serta terpilih di Pileg. Bak makan buah simalakama. Jika dilihat dari tahapan, para kader partai yang sukses melenggang ke gedung rakyat (DPRD), disisi lain berhasrat maju sebagai kontestan Pilkada harus berpikir ulang sebab dihadapkan pada pilihan sama sulitnya karena diharuskan mundur sebelum dilantik jika ingin mencicipi menu tarung Pilkada. Pilihan sulit ini, membuat para kader memiliki pontensi maju di Pilkada menjadi gamang antara terjun atau melanjutkan kepercayaan rakyat ke gedung DPRD.
Belum lagi, hukuman sosial dari masyarakat yang akan diterima kader tersebut, karena dianggap menyia- nyiakan kepercayaan dan mengkhianati suara rakyat yang telah memilih mereka, sungguh sebuah pergumulan rumit. Situasi ini pun membuat Parpol kekurangan figur untuk diusung nanti. Sebab hingga saat ini, dari sekian kader Parpol yang terpilih sebagai anggota DPRD periode 2024- 2029 belum ada yang berani menyatakan diri maju sebagai calon Bupati atau Wakil Bupati, semua masih menganalisis kemungkinan- kemungkinan.
Salah satu Parpol yang ramai dan menarik dibahas menjelang Pilkada ini adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Bukan rahasia lagi, partai besutan “Mbak Mega” di Kabupaten Kepulauan Sangihe selama ini terjadi disharmonisasi hingga membentuk faksi- faksi secara internal. Sehingga situasi ini mempengaruhi kerjasama dan kesolidan. Bila suasana ini terus berlanjut serta tidak terjadi rekonsiliasi hingga penetapan calon Pilkada, bukan tidak mungkin partai pemenang Pileg pada Pemilu 2024 ini kembali menelan pil pahit kekalahan.
Ketidaksolidan internal partai berlambang banteng moncong putih ini memberi peluang pintu terbuka lebar bagi kader di luar partai masuk menjadi perekat dan penyambung simpul kebersamaan yang selama ini renggang serta terkulai kembali kuat bahkan solid.
Santer dibicarakan di kalangan kader maupun elit PDIP Sulawesi Utara, sosok Abid Takalamingan (AT) digadang- gadang bakal dilirik partai dengan jargon “wong cilik” ini. Politisi Sulut asal Kampung Talawid Kecamatan Kendahe ini, selain piawai sebagai okestra politik tetapi juga memiliki kapasitas mumpuni yang dibutuhkan sebagai seorang pemimpin serta memahami sosial kultur tanah Tampungang Lawo.
Selain itu, daya tarik ketokohan Ungke Abid, sapaan akrab politisi familiar, sosoknya dipandang mampu merajut kembali kebersamaan di internal partai sehingga solid dijadikan kekuatan besar menjemput kemenangan di Pilkada November mendatang.
Bahkan, peluang besar diliriknya AT oleh PDIP pada Pilkada mendatang tidak lepas dari kedekatan dan hubungan emosional antara dirinya (AT) dengan Bendahara Umum DPP PDIP yang tidak lain dan tidak bukan adalah Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey, diyakini menjadi modal kuat bakal dipinangnya AT sebagai calon PDIP di Pilkada mendatang.
Tidak hanya itu, secara pribadi AT meskipun pendatang baru sebagai Calon DPD, beliau mampu meraih suara signifikan, terlebih di Kabupaten Kepulauan Sangihe jadi modal elektoral yang tak boleh diabaikan. “Benar Pak AT masuk radar dan dilirik untuk diusung sebab kriteria calon ada pada beliau serta dari sisi eklektoral yang bersangkutan telah membuktikan,” ujar salah satu pengurus PDIP yang enggan namanya di-publish.
