Biden Sebut Putin Seorang Pembunuh, Putin: Lihat Ke Cermin

Global, LintasUtara.com – Presiden AS Joe Biden menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai seorang pembunuh dalam wawancaranya dengan George Stephanopoulos dari ABC News, Rabu (17/3/2021).

Dalam wawancara tersebut, awalnya Biden menuduh Rusia mengintervensi Pilpres AS bulan November 2020 lalu, yang dia dapat dari laporan intelijen. Meskipun hal ini telah dibantah Rusia, tapi Biden tetap mengultimatum Putin akan konsekuensi dari intervensi ini.

“Dia akan membayar harganya,” kata Biden, dikutip dari Reuters, Jumat (19/3/2021).

Wawancara pun berlanjut pada topik tentang hubungannya dengan Putin. Biden mengungkapkan, dia cukup mengenal Putin, dan karena sudah saling mengenal, maka dia mengingatkan Putin untuk berhati-hati.

“Jadi, Anda kenal Vladimir Putin. Apakah menurut Anda, dia pembunuh?” tanya Stephanopoulos.

Biden pun mengiyakan, “Mmm hmm, ya,” jawab Biden.

Tak berselang lama setelah wawancara itu, Duta Besar Rusia untuk AS, Anatoly Antonov dipanggil pulang ke Kremlin.

Kremlin menyatakan, pemanggilan Duta Besarnya ini adalah untuk membicarakan masa depan hubungan kedua negara, dan menghindari rusaknya hubungan diplomasi diantara dua negara superpower itu.

Sementara itu, kendati berang dengan Biden yang menyebutnya ‘pembunuh’, Putin menanggapi pernyataan itu dengan santai. Presiden Rusia empat periode itu malah melontarkan lelucon yang lazim di kalangan anak-anak Rusia.

“Saya ingat dulu waktu masih kecil, saat kami (anak-anak Rusia) bertengkar satu sama lain di halaman, kami biasa berkata: dia yang mengatakannya, adalah dia yang melakukannya,” kata Putin, sembari menekankan kalau itu bukan hanya sekedar ucapan atau lelucon anak-anak, tapi memiliki makna psikologis yang sangat dalam.

Putin melanjutkan, penyataan Biden menunjukkan “kemunafikan” karena dalam sejarah manusia atau negara, ada banyak peristiwa yang keras dan berdarah, “tetapi ketika kita mengevaluasi orang lain atau bahkan negara lain, kita selalu tampak melihat ke cermin. Kita selalu melihat diri kita sendiri di dalamnya,” sambung Putin, yang disusul dengan sindirannya terkait sejarah berdarah AS.

Oleh karena itu, dia menegaskan kalau AS dan Rusia itu berbeda, dan tidak bisa dianggap sama atau dipaksakan untuk sama.

“Mereka pikir kami ini sama dengan mereka (AS), tapi kami berbeda, secara genetik, budaya dan landasan moral yang berbeda,” tegas Putin.

Dan terkait penyataan Biden kalau mereka cukup dekat satu sama lain, Putin pun mengiyakannya. Malahan, Putin mendoakan agar Biden selalu dalam keadaan sehat di umurnya ke-78 tahun.

“Saya doakan dia sehat. Saya mengatakan ini tanpa ironi, dan ini bukan lelucon,” tutup Putin.

Joe Biden yang menjabat Presiden AS sejak Januari 2021 mengambil langkah ekstrim dalam kebijakan luar negerinya untuk tidak hanya berurusan dengan Rusia, melainkan juga dengan China.

Dengan mengusung kebijakan luar negeri yang mentitikberatkan pada Demokrasi, pemerintahan Biden memperkuat aliansi AS di Asia Pasifik dan mendesak China untuk mempengaruhi Korea Utara agar menutup program nuklirnya.

Dalam Pertemuan Tingkat Tinggi AS dan China di Alaska, AS hari ini, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken secara blak-blakan menyerang ‘manuver’ China ke beberapa negara sekutu AS di Asia Pasifik.

Bahkan, sebelum pertemuan dilakukan, AS mengumumkan sanksi baru baru kepada China karena kekerasan terhadap gerakan Pro-Demokrasi Hongkong.

Setelah China, kini pemerintahan Joe Biden menyasar Rusia. Biden menyalahkan Putin atas kekerasan dan penangkapan yang tidak berdasar terhadap pemimpin oposisi, Alexey Navalny, dan pembunuhan terhadap sejumlah pegiat HAM Rusia, serta menuding intervensi Rusia terhadap Pilpres AS 2020.

Hal ini pun berujung pada pernyataan Biden yang menyebut Putin seorang pembunuh.

Juru bicara gedung Putih Jen Psaki mengatakan Presiden Joe Biden tidak menyesali pernyataannya. Dan saat wawancara berlangsung Presiden tidak ragu menjawab.

“Tidak. Presiden kan langsung menjawab pertanyaan itu,” kata Psaki.

Namun, peringatan Biden kepada Putin bisa jadi kenyataan, sebab Presiden Biden melalui Menlu Antony Blinken pada Kamis (18/3/2021) mengumumkan sanksi baru terhadap Rusia.

(AM)

Ikuti Berita dan Informasi Terbaru dari Lintasutara.com di GOOGLE NEWS

Bagikan Artikel:

Artikel terkait

Terpopuler

BERITA TERKINI