Daftar spesies burung yang mengalami perubahan kategori keterancaman

Contohnya terlihat pada kelompok kangkok (Hierococcyx) di Kalimantan. Menurut kajian terbaru, kangkok gelap (Hierococcyx bocki) yang sebelumnya dianggap satu spesies ternyata berubah menjadi dua spesies. Dari kajian mendalam, ditemukan populasi kangkok gelap yang berada di Kalimantan memiliki karakter vokal yang berbeda dibandingkan dengan wilayah lain yang menjadi persebarannya, yaitu Sumatra dan Semenanjung Malaysia. Oleh karena itu, statusnya dinaikkan menjadi spesies yang berbeda, yakni kangkok tiga-nada (Hierococcyx tiganada).
Perubahan lain juga terjadi pada kelompok myzomela di Kepulauan Banda. Kajian terbaru menunjukkan bahwa myzomela banda yang sebelumnya dianggap satu spesies ternyata memiliki perbedaan suara yang kuat dan tidak saling merespons kicauan satu sama lain antara spesies myzomela di Pulau Tanimbar dan Pulau Babar. Hasil penelitian ini membuat populasi spesies di dua pulau tersebut diperlakukan sebagai spesies tersendiri, yaitu myzomela tanimbar (Myzomela annabellae) dan myzomela babar (Myzomela babarensis).
Selain itu, ada pula spesies yang ditambahkan karena perkembangan pengetahuan mengenai sebaran habitatnya. Puyuh-siul dulit (Rhizothera dulitensis) dimasukkan ke dalam daftar burung Indonesia karena penelitian menunjukkan bahwa habitat alaminya di pegunungan Borneo kemungkinan juga mencakup wilayah Kalimantan di Indonesia, meskipun catatan perjumpaan langsung masih terbatas.

Di sisi lain, beberapa spesies dikeluarkan dari daftar setelah hasil kajian terbaru menunjukkan bahwa mereka menjadi subspesies. Misalnya, paok sangihe dan paok siau yang kini kembali digabungkan ke menjadi subspesies paok sulawesi (Erythropitta celebensis).
Empat takson lain, seperti myzomela rote, sikatan kalao, sikatan bubik-sulawesi, dan burung-madu wakatobi, juga tidak lagi diperlakukan sebagai spesies tersendiri. Saat ini, keempatnya ditempatkan sebagai subspesies dari spesies kerabatnya, yaitu Myzomela dammermani irianawidodoae, Cyornis djampeanus kalaoensis, Muscicapa dauurica sodhii, dan Cinnyris jugularis infrenatus. Hal ini terjadikarena masih diperlukan bukti tambahan untuk memastikan statusnya sebagai spesies penuh.
(Baca Selanjutnya : Tekanan Terhadap Populasi Burung di Alam Masih Berlangsung)
