Jaladri Junius, dramawan teater Sanggar Tangkasi Bitung mengaku cukup puas dengan tampilan secara keseluruhan. Menyaksikan pentas dari bangku penonton, baginya tiap suguhan telah tersiapkan dengan baik.
“Teman-teman sudah mempersiapkan pementasan dengan baik, meskipun memang ada sedikit kendala-kendala, namun secara utuh sudah sangat maksimal dan menarik,” ujarnya.
Ia juga menyorot penggunaan musik secara live, mulai dari Musik Bambu, Suling, Tagonggong bahkan Lide sebagai bagian nan penting dalam membangun efek magis dalam pentas ini.
“Sebagai bagian dari pelestarian budaya, kesatuan seni dalam pentas ini menjadikan garapan ini begitu apik, apalagi musik Lide yang memang jarang kita dengar. Seharusnya ini tidak hanya sekali, namun jadi momentum untuk terus menggaungkan kayanya kebudayaan Sangihe lewat teater,” pesannya.

Bagi Jaladri Junius, naskah Pangunang di Auditorium Polnustar Tahuna bukan jadi pentas pertama. Dan baginya, Fajar Gultom selaku Sutradara pasti telah melewati tahap pendalaman nan berbeda dari pentas lainnya, apalagi memang tersuguhkan di daerah tempat tradisi ini berlangsung pada masa lampau.
“Jadi kami yakin ada pendekatan – pendekatan secara kultur yang membuat garapan ini lebih realis. Bagi saya ini lumayan megah meski dengan segala keterbatasan, seperti panggung yang aslinya memang bukan panggung untuk teater. Ini pencapaian luar biasa bagi saya pribadi,” kuncinya.
Sementara itu, Gultom sendiri menilai performa pemain cukup maksimal dalam pelaksanaan pentas hasil kerja sama Sanggar Seriwang dan Dana Indonesiana, Kementerian Kebudayaan RI dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
“Saya puas karena segala hal nampak maksimal. Terlepas dari kendala – kendala teknis, secara performa semua tim menampilkan yang terbaik untuk menghibur masyarakat sebagai penonton.
