Auditorium Politeknik Nusa Utara (Polnustar) Tahuna nampak mencekam, Sabtu (28/3/2026) malam. Seakan berganti dimensi, dinding – dinding batu berdiri, dengan kursi batu dan batang kayu di bagian atas panggung.
Sosok ampuang keji berdiri bersama Urena istrinya, memimpin upacara pemenggalan kepala gadis perawan. 5 perempuan; dewi pulau Beeng berwajah seram, sumringah menunggu momentum meminum darah korban.
Pada bagian bawah panggung, meja pemenggalan kepala terpampang, dengan Sangiang; tokoh perempuan perawan terkapar di atas meja. Di bagian kiri dan kanan, berdiri tegap para pengawal, menjaga upacara keji itu berjalan mulus.

Asap menyebar di seantero panggung, menyatu dengan permainan lampu dan alunan instrument, memaksa setiap pasang mata menantikan pedang terayun ke arah Sangiang, meski malah berakhir pada padamnya cahaya panggung.
Adegan ini menjadi pembuka pementasan naskah Pangkunang, karya seniman Sulawesi Utara (Sulut) Leonardo Axsel Galatang, yang digarap Sutradara Fajar Gultom dan Assisten Sutradara Christian Boham.
Ya, Sanggar Seriwang Sangihe sukses menuntaskan pementasan berdurasi kurang lebih 2 jam, usai proses panjang berbulan – bulan. Memberi pengalaman teatrikal berbeda bagi ratusan penonton yang hadir.
(Baca Selanjutnya)
