Dukung karya jurnalisme perbatasan Lintasutara.com
Lihat
LU TV

Suara Sangihe: Menjaga Tradisi dan Meraih Peluang di Era Modern

Terbit:
Paulus serang

Kabupaten Kepulauan Sangihe adalah salah satu daerah di Sulawesi Utara memiliki 105 pulau dengan jumlah penduduk kurang lebih140.000, menyimpan kekayaan budaya dan sejarah yang kuat.

Dengan warisan budaya yang khas bahkan secara mitologi sering disebut sebagai Yunani kecil dan peran strategis sebagai wilayah perbatasan, sehingga Sangihe memiliki tantangan dan peluang unik di era globalisasi yang dihadapi masyarakat Sangihe dalam mempertahankan identitas budaya sekaligus meraih peluang di era modern.

Budaya Sangihe adalah mosaik adat, tradisi, bahasa, dan nilai-nilai kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Masyarakat Sangihe memiliki berbagai bentuk kesenian, seperti tari-tarian tradisional, alat musik bambu (musike kalaeng), olri serta ritual adat yang melibatkan prosesi penghormatan terhadap alam.

Salah satu aspek paling menonjol dari budaya Sangihe adalah Masamper, yaitu tradisi menyanyi dalam kelompok yang melibatkan syair-syair adat, kritik sosial, serta doa dan pujian kepada Tuhan dan alam.

Tradisi ini menjadi simbol kuat kebersamaan serta alat untuk menyalurkan aspirasi dan keluhan rakyat. Selain itu, bahasa Sangihe yang merupakan bagian dari keluarga bahasa Melayu-Polinesia masih digunakan secara luas, meski kini menghadapi tantangan dalam mempertahankan eksistensinya terlihat dari data UNESCO menjadi salah satu bahasa daerah yang tercancam punah dengan persentase penutur dibawah 20 persen dari jumlah penduduk.

Baca Juga:

Bahasa ini tidak hanya menjadi alat komunikasi, namun juga berfungsi sebagai identitas masyarakat Sangihe, disis laian, keindahan alam Kepulauan Sangihe menawarkan peluang besar untuk sektor pariwisata. Pantai, terumbu karang, serta pegunungan menjadi daya tarik yang dapat dikembangkan dengan konsep ekowisata.

Tradisi budaya seperti Masamper, upase, gunde, dan upacara adat lainnya (Tulude) dapat menarik wisatawan yang ingin mengalami keunikan budaya lokal. Pemanfaatan teknologi digital sebagai alat promosi budaya membuka peluang bagi Sangihe untuk mempromosikan budaya dan pariwisata melalui media sosial dan platform online.

Dengan teknologi ini, budaya dan produk lokal dapat dikenal lebih luas, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga internasional. Anak-anak muda Sangihe, sebagai generasi yang melek teknologi, memiliki kesempatan untuk menjadi duta budaya, memanfaatkan platform digital untuk mengenalkan keunikan budaya mereka.

Tidak hanya itu potensi ekonomi maritim yang dimiliki Sangihe sangat besar dalam sektor perikanan dan kelautan. Posisi geografisnya yang berbatasan langsung dengan Filipina menjadikannya sebagai titik strategis untuk perdagangan internasional.

Dengan pengelolaan yang baik, sektor maritim dapat memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan bagi masyarakat Sangihe. Tetapi kita juga tidak menutup mata terhadap tantangan dalam mempertahankan budaya.

Seperti halnya daerah lain di republik ini, Sangihe juga menghadapi tantangan dari globalisasi. Masuknya budaya asing melalui media sosial, internet, dan televisi membuat generasi muda sering kali lebih mengenal budaya populer dari pada warisan budaya mereka sendiri.

Hal ini dapat mengancam keberlangsungan tradisi adat jika tidak diimbangi dengan upaya pelestarian.Keterbatasan akses infrastruktur dan ekosistem, menjadi tantangan besar dalam mempromosikan pariwisata dan produk lokal Sangihe.

Bahkan beberapa pulau di Kabupaten Kepulauan Sangihe masih sulit dijangkau, sehingga menghambat mobilitas barang dan orang. Peningkatan infrastruktur akan sangat membantu untuk mengembangkan sektor ekonomi dan budaya.

Belum lagi, Sangihe sebagai daerah kepulauan sangat rentan terhadap perubahan iklim dan bencana alam, seperti tanah longsor, banjir dan gelombang. Perubahan iklim berdampak pada kehidupan nelayan, sektor pariwisata, serta mengancam keberlanjutan lingkungan yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Sangihe.

Sehingga dalam menghadapi peluang dan tantangan ini, penting bagi pemerintah serta pemimpin yang baru terpilih nanti dan masyarakat Sangihe didalamnya generasi muda untuk merancang strategi yang seimbang antara modernisasi dan pelestarian budaya. Salah satunya adalah integrasi bahasa dan seni Sangihe ke dalam kurikulum pendidikan lokal dan mengadakan festival tahunan yang merayakan kekayaan budaya.

Kreativitas dan inovasi generasi muda sangat berperan dalam menjaga relevansi budaya di era modern. Memanfaatkan teknologi digital, mereka dapat menjadi influencer budaya yang membawa keunikan Sangihe ke dunia internasional.

Selain itu, dengan meningkatkan akses ke infrastruktur dan pelatihan tentang keberlanjutan lingkungan, masyarakat Sangihe dapat memperkuat daya saing di sektor ekonomi dan pariwisata. Budaya Sangihe merupakan identitas yang berharga, dan suara Sangihe harus terus menggema di tengah era yang penuh perubahan ini.

Dengan semangat kolektif untuk melestarikan warisan budaya dan menghadapi tantangan globalisasi, masyarakat Sangihe memiliki peluang besar untuk berkembang dan menjadikan Sangihe sebagai salah satu daerah unggulan di Indonesia.

Bagikan:

Artikel terkait

Advertisement

Terpopuler

Nusa Utara dalam Pusaran RTRW Sulut: Provinsi Baru atau Ilusi yang...

Suara Sangihe

Bupati Sitaro Penuhi Pemeriksaan Lanjutan di Kejati sebagai Saksi Kasus DSP...

Sitaro

Regina Toasyana Sinedu: Suara Muda dari Perbatasan yang Menembus Dunia Diplomasi

Profil

Bupati Sitaro Chyntia Kalangit Kembali Diperiksa Kejati Sulut

Daerah

Mahasiswi Polnustar Jadi Korban Banjir Bandang Siau, Kampus Berduka dan Kehilangan

Sitaro

Terkini